Selamat menikmati sajian tulisan di blog Dunia Kata... Jangan lupa tinggalkan jejak yaa ^_^

Mengatasi Cantengan

Subhanallah, baru kali ini ngerasain penyakit di jari tangan yang namanya cantengan alias bahasa kerennya paronikia. Yaahh, apapun namanya, intinya penyakit ini timbul dari hal yang sepele. Aku suka lupa kebiasaan gigitin kuku alhasil infeksi dan WAW, jari telunjuk jadi bengkak. Pikir-pikir, kayaknya ga terlalu bahaya yang kualami, cuek aja dan membiarkannya berhari-hari berharap bisa sembuh kembali. Ehh tau-taunya udah 3 hari ini bengkak ga kempes-kempes. Panik dong? Yaiyalah secara aktivitas semua dilakukan di tangan kanan, apatah lagi ini jari telunjuk, bisa ga berfungsi dong kalau lagi bengkak gini. Akhirnya tanya sana tanya sini, ketemu nih 5 tips mengatasi cantengan. Mau tau? Check it out !! :)
  1. Merendam kuku dalam air hangat 3-4 kali sehari selama 5-10 menit, sampai gejala menghilang. Jangan lupa untuk mengeringkan kuku setelah merendamnya.
  2. Memastikan agar daerah kuku dan sekitarnya selalu kering dan bersih.
  3. Jangan menggunakan produk-produk yang dapat mengiritasi (sabun dengan parfum, cat kuku, pembersih cat kuku).
  4. Hindari terjadinya trauma (tersandung batu/meja).
  5. Hindari manipulasi pada daerah kuku dan sekitarnya (manikur, menggunting sendiri daerah yang infeksi).
Dan jika cantengan tidak kunjung membaik juga dalam beberapa hari dan infeksi semakin parah, maka sebaiknya langsung mengunjungi dokter ya. Dokter mungkin perlu melakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah ada penyebab lain seperti jamur atau alergi. Pembedahan kuku untuk mengangkat kuku yang rusak dan terinfeksi serta pengeluaran nanah juga mungkin diperlukan jika infeksi yang terjadi cukup parah. Tidak perlu kuatir mengenai pembedahan kuku, karena tindakan ini diperlukan agar infeksi tidak meluas dan menyebar. Jika kuku diangkat maka kuku biasanya akan tumbuh kembali dalam kurun waktu 6 bulan. WAW banget ya, tapi ya itu demi kebaikan kita juga kok :)

Butuh Guru Privat?

Siapa yang butuh guru privat? Smart One menyediakan tenaga pengajar pilihan yang siap datang ke rumah bagi yang memiliki kemauan besar tuk belajar. Semua mapel, Calistung, Bahasa Asing maupun Al-Qur'an insya Allah siap kami bantu. Hubungi ya segera 0812-83810066 atau pin BB 749FB46C :)


Be a Great Wife! Percaya Akan Pesona Dalam Diri

Betapa mudah... seorang istri merasa tidak percaya dihadapan suami. Terlebih ketika mengetahui teman kerjanya yang wanita memiliki penampilan menarik. Maka wajar saja, para pria lebih memilih tetap bekerja ketimbang pensiun dini. Karena selain ia mendapat menghasilan, di tempat kerjanya juga sebagai sarana "hiburan" tersendiri. Di rumah misalkan, seringkali suami istri mengalami perselisihan bahkan hal kecil saja bisa menyulut api percekcokan. Maka, bagi seorang suami salah satu tempat pelariannya dari rumah adalah di tempat kerjanya, Di tempat kerjanya bisa saja ia melihat pemandangan segar teman kerja wanitanya berbusana minim, berdandan cantik dan lain sebagainya. Belum lagi di tempat kerjanya, para suami bisa disuguhi obrolan-obrolan dengan lawan jenis yang dianggap sepele padahal kalau terus terjadi interaksi, bisa saja toh timbul sebuah hasrat? Ahh, tebak sendiri saja kelanjutannya.

Dan pada akhirnya, para istri yang bekerja di rumah alias sebagai ibu rumah tangga kurang peka terhadap hal ini. Yang ia temui di rumah, adalah suami yang baik-baik saja.. baru pulang kerja, kemudian istirahat dan begitu terus siklusnya. Maka hal seperti ini adalah hal yang biasa pikirnya. Padahal bisa saja, rumah yang ditempati suami istri hanya jadi tempat istirahat para suami ketika mereka sudah lelah dan letih dalam menghibur dirinya sendiri dengan teman kerja wanita. Ohh, mungkin memang tidak terjadi apa-apa, tapi bagaimana ya kalau seorang pria harus berelasi atau hubungan kerja dengan teman kerja wanitanya yang berpenampilan seksi atau minimal tidak menutup aurat rapat dan mengeluarkan aroma parfum di tubuhnya yang seolah mengajak untuk bercumbu rayu? Masya Allah.. Naudzubillaah, semoga suami-suami kita bukan yang termasuk mengalami hal macam ini ya.

Lantas, jika kita sudah peka akan kenyataan seperti ini, kemudian berusaha untuk mengubah diri setidaknya untuk bisa mempercantik diri dihadapan suami... kita sering menerima kenyataan bahwa sang suami kurang merespon dengan baik. Banyak ibu rumah tangga yang sudah berdandan habis-habisan di rumah agar bisa menarik perhatian suami sementara suami pulang kerja dan tidak merespon sama sekali, apa yang terjadi? Kesal, jengkel, dongkol... Mengapa sebagai seorang istri kita tidak bisa melebihi cantiknya dan berpakaian seksi layaknya teman kerja wanita sang suami? Seolah upaya seorang istri ini tidak dianggap sebagai sebuah usaha dalam mempertahankan rumah tangga dan menjaga keharmonisan hubungan suami istri.

Ya. Selama ini kita memang sudah dicekoki pemikiran bahwa istri yang seksi di mata sebagian besar suami adalah istri-istri muda yang berani berdandan cantik dan menggunakan pakaian minim dihadapan suami. Benarkah demikian? Padahal, tak semua suami menginginkan hal demikian... Justru ketika letihnya saat ia pulang bekerja, ia butuh sambutan hangat dari istri, disuguhkan minuman atau menyiapkan air hangat untuk mandinya. 

Faktanya memang masih banyak suami yang tertarik pada istri melalui kepribadian sang istri. “Keseksian sejati seorang istri justru terletak pada keunikan mengemas dan merepresentasikan keseluruhan dirinya sebagai istri yang menunjukkan kenyamanan dalam bertindak dan bergaul, percaya diri namun santun dan menghargai orang lain—dalam hal ini, sebagai ummahat dan atau muslimah, ya buat suami."

Contohnya saja... Sikap yang dianggap nilai plus oleh seorang suami adalah sikap percaya diri. Karena inilah modal utama seorang istri yang ingin memiliki kualitas kepribadian yang baik. Percaya dirilah terhadap apa yang kita miliki. Tidak perlu berdandan glamour untuk menarik perhatian suami. Cukup percaya kepada apa yang ada pada diri dan jadilah diri sendiri maka itu akan membuat suami lebih tertarik.
 
Selain itu, istri akan dilihat lebih menarik jika memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik dan berani untuk beraspirasi atau minimal mengemukakan pendapat yang ada di pikirannya. Suami juga tidak akan terlalu senang hidup bersama dengan istri yang selalu mengatakan iya setiap suaminya mengatakan sesuatu atau melakukan sesuatu tanpa memberikan saran, pendapat, atau kritik. Ungkapkanlah apa yang ada di pikiran kita, jangan hanya menurut kepada apapun yang suami kita katakan.

Tentu saja, tidak dipungkiri bahwa penampilan juga penting. Tidak munafik jika yang pertama membuat suami tertarik adalah penampilan fisiknya. Penampilan menarik disini bukan berarti harus menggunakan pakaian-pakaian modis dan bermerk. Tapi berpenampilanlah sewajarnya dengan pakaian-pakaian yang membuat kita nyaman sehingga akan meningkatkan kadar percaya diri kita dihadapan suami.
 
Jangan lupa untuk bersikap yang wajar dan jangan dibuat-buat. Tunjukkan diri kita yang sesungguhnya tidak perlu susah-susah meniru penampilan orang lain termasuk teman kerja wanita sang suami yang tidak menutup aurat. Karena setiap orang memiliki keistimewaannya sendiri-sendiri. Tunjukanlah keistimewaan kita dan hal itulah yang akan membuat kita dimata suami terlihat “seksi”.
 
Istimewanya kita sebagai seorang wanita sekaligus sebagai istri adalah ketika kita memiliki prinsip dan pendirian yang jelas. Suami paling malas dengan istri yang selalu berubah-ubah dan tidak memegang perkataannya. So, jadilah istri yang memiliki inegritas dalam perkataan dan perbuatan secara konsisiten. Tidak mudah dipengaruhi oleh apa dan siapapun.
 
Karena suami dan istri itu berasal dari planet yang berbeda.. maka suami akan lebih cepat tertarik kepada istri yang mudah beradaptasi dan menerima perbedaan. Istri yang memiliki sifat seperti ini memiliki pesona tersendiri yang membuat dirinya akan terlihat seksi dan menarik di mata suami.


Jadi... jangan minder dengan apa yang sudah Allah anugerahkan bagi diri. Kalau suami bisa terpesona dengan kecantikan luar dari teman kerja wanita, maka seharusnya kita sebagai istri bisa memikat suami dengan kecantikan yang terpancar dari dalam diri kita. So, percaya dirilah duhai para istri.. karena setiap wanita terlahir menarik! Be a great wife!! :)

Salam..
~DLT

Cinta Ala Habibie-Ainun

Jujur saja, meleleh air mataku... saat menyaksikan film Habibie Ainun yang tayang perdana di RCTI semalam... Mungkin telat ya, karena aku baru bisa menyaksikan disaat orang-orang sudah menganggapnya basi. Heuheu. Maklum saja, saat tayang di bioskop aku tak bisa menyaksikan karena anakku saat itu masih bayi merah hehe.

Banyak ibrah yang bisa diambil dari kisah habibie ainun.. Salah satunya adalah bahwa Jodoh Takkan kemana dan kalau memang jodoh, jalannya akan mudah. Bayangkan saja, terpisah tujuh tahun karena Rudy (red Habibie) melanjutkan sekolah dan karir di Jerman. Selalu ada skenario Tuhan dalam mempertemukan mereka kembali. Begitu pulang ke Indonesia 7 Maret 1962 semua berjalan mengalir, mudah dan begitu cepat. Ketika itu, banyak yang mendekati Ainun, dari berbagai latar belakang. Rata-rata berasal dari keluarga yang jauh lebih berada daripada Habibie. Mereka naik mobil, habibie naik becak. Pemuda asli pare-pare ini tampil apa adanya. Dan kita sudah lihat, siapa yang pada akhirnya jadi juara.

Selain itu, pelajaran yang bisa kuambil adalah bahwa Jangan Sekadar Jatuh Cinta Tapi Juga Membangun Cinta. Romantisme-romantisme kecil harus mewarnai kebersamaan setiap harinya khususnya bagi pasutri. Habibie kerap kali mencium kening Ainun dengan begitu mesra. Saat Ainun cemburu pun, Prof.DR.Ing itu kerap berkata bahwa Ainun tetaplah yang tercantik bagi dirinya. “Ainun, saya tidak bisa menjanjikan kepadamu banyak hal. Seperti mobil, rumah, dengan segala kehidupan yang (langsung) mapan di Jerman. Tapi saya janji, akan menjadi suami terbaik untukmu. Mau kah Ainun ikut saya ke Jerman? menemani saya sebagai teman hidup?" Ainun pun menjawab: Rudy, aku pun tak bisa menjanjikan kalau saya selalu jadi istri yang baik, tapi.. aku berjanji akan menemanimu kemanapun kamu pergi. Subhanallah romantis khan!
 
Dan poin berikutnya yang bisa diambil hikmah adalah bahwa Mereka Berbeda, Namun Punya Titik Temu. Coba saja lihat Habibie yang jenius namun keras kepala. Meledak-ledak, sanguinis yang romantis dan logis. Pribadi demikian membutuhkan sosok penyeimbang. Itu semua ada di Ainun, yang cerdas, cekatan, perasa perfeksionis, tenang dan sabar. Maka seharusnya begitupula kita, sebagai pasutri harus bisa saling menyeimbangi satu sama lain, saling melengkapi dan mengisi kekurangan..
.
Habibie takkan lengkap tanpa Ainun dan sebaliknya. Mereka berdua hebat sebagai tim. Patner hidup terbaik satu sama lain. Cinta yang menyatukan... dan cinta pula yang memisahkan. Semoga kita sebagai suami ataupun istri bisa menjadi pendamping setia dalam suka duka hingga maut yang memisahkan. aamiin

Dibalik Menjadi Odoj'ers #251

Sejak bergabung sebagai odojers... Alhamdulillaah, mantap menyelesaikan 1 juz 1 hari padahal mah dahulu kala paling banter selesai cuma 5 lembar alias 1/2 juz hehe. Memang sih hari pertama tilawah satu juz rasanya masih cemas, apakah aku sanggup ya? Namun seiring berganti hari, rasa semangat itu muncul! Mulai deh ngeskip beberapa aktivitas yang gak penting, mulai dari standby di sosmed sampai memutuskan untuk menghindari tontonan televisi.
 
Hari-hari selanjutnya, aku pun merasa terintimidasi.. maklum saja bekerja sebagai ibu rumah tangga dengan urusan rumah yang tiada henti belum lagi harus menemani dan mengawasi putraku yang lagi aktif-aktifnya, hingga membuatku telat laporan "done" jatah juz yang kudapat. Bayangkan aja, kepanikan mucul tatkal pagi-pagi buta di grupku #251, sudah ada yang laporan sudah menyelesaikan tilawah satu juz… padahal saat itu aku baru selesai nyuci piring, nyiapin sarapan.. belum lagi siang harinya yang semakin banyak laporan kalau sudah selesai, sedangkan saaat itu aku sedang mengajak bermain dan mengajarkan anak bercerita. Yang tambah syok lagi itu, bahkan ada yang menyelesaikan 2-3 juz, mengambil jatah teman yang sedang haid.. dan akhirnya aku baru bisa memulai tilawah saat anakku sedang tidur lelap siang hari menjelang sore, itupun kadang emaknya ini ikut ketiduran *maklum sambil menyusui :D

Jujur nih, sejak masuk grup ini, aku jadi rajin tilawah *yaiyalaaah! Segala waktu luang coba dipakai buat menyelesaikan jatah tilawah 1 juz.. bahkan sambil menyusui dan terkantuk-kantuk pula suka keingetan bahwa belum menyelesaikan jatah juz, so suka panik abisss dan bersegera ambil mushaf untuk dibaca. Hehe
Subhanallah yaa… ODOJ memang benar-benar mengubah ritme hidupku dan kebiasaanku tentunya. Aaah…semoga saja bisa terus istiqomah begini sampai akhir hayat.. aamiin aamiin aamiiinn!!

Bercermin Pada Kematian

Siapapun tahu dan mengenal apa itu kematian. Karena Kematian pasti terjadi pada diri semua makhluk hidup di alam semesta ini. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan sebuah kematian. Arti kematian mengandung makna bahwa hal tersebut akan memisahkan manusia terhadap segala sesuatu yang dicintainya dalam kehidupan dunia ini. Berpisah dengan segala yang ia miliki atau senangi, berpisah dengan segala yang disayangi atau dicintai. Memisahkan dengan anak dan isteri, anak dan suami serta berpisah dengan bapak atau ibu, berpisah dengan harta dan pangkat, berpisah dengan dunia dan segala isinya. Kematian akan menjadi pemisah dari kesemuanya itu.

Kematian ini semestinya menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi yang masih hidup. Dan salah satu dari
pelajaran dari kematian ini adalah sebagai cermin terbaik untuk kita semuanya manusia. Bercermin untuk lebih sadar bahwa bayangan saat kita bercermin menandakan giliran kita yang pasti akan datang. Setiap yang bernafas pasti akan terhenti nafasnya itu nanti suatu hari.
 

Namun... Banyak yang mengalami ketakutan akan kematian. Ada beberapa penyebab takut mati diantaranya yaitu :
  1. Karena kurang atau tidak adanya pengetahuan kita tentang mati, keadaan mati dan keadaan setelah mati adalah kegelapan. Semua orang takut menempuh tempat yang gelap dan tidak diketahui.
  2. Karena dosa dan kesalahan yang sudah bertumpuk dan tidak bertaubat, sehingga mendengar kata mati sudah terbayang azab dan siksa yang didapatkannya akibat dosa dan kesalahannya yang telah dilakukannya.
Karena itu ada yang mengatakan bahwa orang cerdas akan ingat mati. Karena dengan mengingat mati maka hal ini akan bisa menjadi salah satu penyebab meningkatnya iman dalam diri dan dalam bentuk amaliah kita akan berusaha memperbanyak amalan sholeh untuk bekal di di alam kubur nantinya.
 
Bercermin dari kematian dan mengingat akan kematian, maka kita sedang belajar dari hal tersebut...
  1. Mengingat kematian dapat melebur dosa dan zuhud. Hal ini tercermin dalam sebuah hadist Rasulullah SAW yang berbunyi :"Perbanyaklah mengingati kematian, sebab yang demikian itu akan menghapus dosa dan menyebabkan timbulnya kezuhudan di dunia." ( HR. Ibnu Abiddunya )
  2. Orang cerdik ialah orang yang banyak mengingati mati Hal ini tersirat dalam sebuah hadist yang berbunyi : "Secerdik-cerdik manusia ialah yang terbanyak ingatannya kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya uantuk menghadapi kematian itu. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar cerdik dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia dan akhirat." ( HR. Ibnu Majah ).
Siapa pun dia. Kaya atau miskin. Penguasa atau rakyat jelata. Semuanya akan masuk lubang kubur bersama bungkusan kain kafan. Cuma kain kafan itu. Itu pun masih bagus. Karena, kita terlahir dengan tidak membawa apa-apa. Cuma tubuh kecil yang telanjang. Lalu, masih layakkah kita mengatas-namakan kesuksesan diri ketika kita meraih keberhasilan. Masih patutkah kita membangga-banggakan harta dengan sebutan kepemilikan. Kita datang dengan tidak membawa apa-apa dan pergipun bersama sesuatu yang tak berharga.

Semoga kita bisa bercermin dari kisah-kisah kematian orang yang mendahului kita, belajar dari arti dan hakikat sebuah kematian ini dengan baik dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan nan abadi di akhirat kelak. Insya Allah
 
 

Aktivitas Rayyan (Rekam Jejak)









Jalan Jalan Keluarga

Keluarga adalah segalanya... Ketika bisa menikmati jalan bersama keluarga, meski hanya ke Ragunan, tapi sudah terkenang memorinya. Bersyukur memiliki keluarga dengan anggotanya yang saling kompak, dan meski kami sudah berkeluarga ternyata pasangan kami juga orang-orang yang asyik maka wajar saja, setiap sabtu minggu menjadi agenda rutin kita melanglang buana. Hehe..






Keluarga, Harta Terbaik di Masa Tua

Sebut saja ibu A. Darinya kulihat kekayaan materi yang berlimpah... anak-anak yang berhasil dan sukses secara materi maupun jabatan dan secara prsetise terpandang di masyarakat. Secara ekonomi, bisa dikatakan semua sudah dimilikinya; rumah yang mewah, perabotan yang lux, dekorasi rumah yang elegan dan penampilan diri yang bisa dikatakan oke punya. Namun, dibalik sisi luar biasanya itu... Aku cukup prihatin, karena ditengah kemewahan tersebut, ia sudah menjanda, tinggal jauh dari anak dan cucunya. Yang mengerikannya lagi, rumah mewahnya itu ternyata hanya ditempati olehnya seorang diri, hanya saja kalau malam hari, ada pembantu rumah tangga yang turut menginap bersamanya. Ternyata, dibalik 'wow'nya itu, aku lagi-lagi menundukkan hati dan berkata dalam diri "bersyukurnya aku, hidup seadanya namun dekat dengan keluargaku".
Lain halnya dengan ibu B. Ia juga menyimpan harta yang berlimpah, dalam bentuk emas, berlian dan investasi kontrakkan serta kos-kosan. Meski rumah yang ditempatinya terlihat tidak mewah, namun accessoris yang menghiasinya cukup bernilai pula. Memang ibu B ini masih didampingi sang suami, namun ditengah usianya yang tak lagi muda, ia menghabiskan waktu dengan usaha bisnis yang digelutinya. Hingga mungkin tak sadar bahwa ia semestinya sudah harus banyak beristirahat. Karena kesibukannya yang terkesan "mengejar dunia", padahal ia sudah memiliki segalanya, sandang pangan dan papan tercukupi, anak-anak dan cucunya pun masih lengkap dan sudah jadi 'orang', membuat ia harus menelan pil kecewa berulang kali, karena kesibukannya akan dunianya sendiri membuat ia tidak dekat atau akrab dengan anak serta cucunya. Sehingga, setiap akhir pekan pun anak serta cucunya tak terlihat mengunjungi kediamannya. Ia pun hanya bisa bertemu dengan anak cucu melalui jaringan telepon, berkomunikasi panjang lebar menanyakan kabar namun tak satupun anak maupun cucunya yang 'betah' berlama-lama mengobrol dengannya. Kembali kumerundukkan hati ini sambil mengiba dalam hati, 'Ya Allah... betapa bersyukurnya aku, sekalipun hidupku apa adanya, aku masih bisa berkumpul dengan anggota keluargaku yang masih lengkap'

Sementara ibu C... Ia adalah seorang yang biasa-biasa saja. Menghabiskan waktu dengan berdagang di warung kecilnya. Memiliki anak-anak yang bisa dikatakan belum jadi 'orang', tidak bergelimang harta melainkan gali lubang tutup lubang demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, dibalik kesederhanaannya ini, sikap royal dan suka memberi ini cukup diacungi jempol, karena kebaikannya yang suka memberi dan tidak bersikap pelit membuat banyak orang senang berhubungan dengannya, termasuk anak-anak serta cucunya. Rumah pribadinya yang biasa dan tidak terlihat istimewa, sering dikunjungi anak dan cucunya, di dalamnya ditemukan kesejukan... Jalinan komunikasi yang baik, keterbukaan dan saling menyayangi membuat ibu C sangat bersyukur, ditengah masa tuanya, ia masih bisa berkumpul dengan keluarganya. Baginya, keluarga adalah harta yang tak ternilai. Ia hanya bisa berdoa, semoga suatu saat nanti, anak-anak serta cucunya bisa menjadi orang yang sukses dan bisa kembali membahagiakannya serta sang suami. Ia yakin, bahwa apa yang ia tanam saat ini akan ia tuai disaat tuanya, harapannya adalah anak dan cucunya akan ikhlas mengurusnya ketika masa tuanya ia sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Dan inilah yang membuatku kembali menundukkan sejenak hatiku sambil lirih berdoa, 'Ya Allah, semoga aku bisa belajar dari keluarga sederhana ibu C. Secukupnya dan seadanya, namun tetap merasa bahagia dan istimewa karena dapat berkumpul dengan keluargaku'.
Sungguh... dari kisah 3 ibu di atas, aku jadi belajar banyak bahwa ketika sudah menjadi orang tua, kita harus bisa membuat anak dan cucu menyayangi kita. Bagaimana caranya? Ya, dengan mendidik serta mengajari mereka bahwa keluarga adalah harta yang paling berharga, dan orangtua bagaimanapun jua adalah yang paling harus dihormati dan disayangi. Jangan lupa sedari dini untuk bisa menjalin tali silaturahim  antara orangtua dan anak, kakak dan adik maupun pada saudara. Agar pada masa tuanya, kita tidak merasa sendiri, sekalipun kemewahan menemani, semua tak berarti karena keluarga yang lebih baik di sisi :)

Dibalik Gelar Sarjana

Dibalik gelar sarjana... terselip beragam kisah. Penuh haru biru bahkan menumpahruahkan air mata.

5 tahun lamanya, akhirnya Allah mengijabah doaku. Mengabulkan pintaku untuk segera menuntaskan pendidikan sarjana.

Saat duduk dibangku kuliah tingkat tiga... Mata kuliah yang wajib diambil adalah PPL (Program Pengalaman Lapangan). Saat itu aku mulai menjalaninya dengan kondisi fisikku yang mudah letih karena tengah hamil sekitar 4 bulanan. Lokasi PPL di SD Ar-Rahman, Setiabudi, Jak-Sel membuatku harus bersemangat turun naik tangga karena tempat bagi guru-guru PPL disana berada di lantai dua. Awalnya tak ada masalah, namun kadang letih menghampiri saat mulai mengawas ulangan harian siswa kelas 6 SD yang berada di lantai tiga. Pun, ketika beberapa kali harus ikut upacara bendera pada hari senin, aku harus ikut berdiri lama meski aku kadang menyerah dan memilih duduk di belakang barisan siswa. Alhamdulillah, guru disana pun memaklumi kondisiku. Sampai dimana tiba PPL berakhir... dan tak henti-henti mengucap hamdalah. Karena ditengah kondisi hamil, aku mampu melaluinya dengan baik.

Seharusnya... Pasca PPL adalah saat berharga dimana teman-temanku melakukan penelitian guna menyelesaikan skripsi. Begitu giat mereka bolak-balik ke SD dimana mereka praktek mengajar dan memperoleh dokumentasi yang mendukung skripsi mereka. Namun, tidak dengan aku. Aku lebih memilih 'rehat' sejenak dari dunia perkuliahan karena kondisiku yang sedang hamil tua. Disaat itulah aku banyak menghabiskan waktu di rumah, mengajak komunikasi dengan si janin yang ada dalam rahimku dan mencari-cari informasi terkait nutrisi bagi ibu hamil serta persiapan melahirkan. Daaaaan... Skripsi pun, sama sekali tidak masuk dalam daftar kesibukanku. Rasanya, aku seperti bukan anak kuliahan lagi. Saat itu hanya pasrah kalau memang aku akan berhenti sampai disini karena kondisiku yang hamil tua dan tak memungkinkan penelitian serta bolak-balik ke kampus dari Bekasi ke Jakarta Selatan.

Sampai dimana saat itu tiba. Lahirlah bayi laki-laki mungil... yang aku dan suami beri nama Rayyan Syafiq Ayatullah. Pasca melahirkan, fokusku tercurah sepenuhnya padanya. Bagaimana agar aku tidak 'baby blues' dan bisa memberikan ASI eksklusif. Maka, peran baru sebagai ibu sungguh-sungguh sangat menyita waktu... Bahkan aku tidak bisa pergi kemana-mana (pergi jauh) karena Rayyan bayi sangat ketergantungan langsung saat menyusui, ia tidak mau ASI perah yang disimpan dalam botol. Hari-hariku pun dipenuhi rona bahagia sekaligus rasa letih yang mendera sangatt. Dan lagi-lagi, skripsi tak ada dalam benakku, aku sungguh sangat pesimis bisa menyelesaikan studiku.

Hingga saat itu tiba... Suamiku diwisuda S2 nya, gelar magister pun sudah ia peroleh. Sementara aku? Boro-boro S2, S1 aja belum lulus. Speechless banget saat hadir diwisuda sang suami. Kulihat banyak wisudawan mengenakan toga. Lalu, aku kapan? Lagi-lagi pesimis... entah kapan aku bisa menyusul suamiku yang mampu menuntaskan pendidikan. Pasca hadir diwisuda itu, aku tersadar... bahwa masih ada kesempatan. Pasti bisa, dan bisa! Maka, suamiku memotivasiku untuk menyusul wisuda di tahun yang sama (2013). Meski agak sedikit ragu karena aku masih punya bayi yang susah ditinggal dan tidak bisa dititipkan pada orangtua karena ketergantungan ASI secara langsung, maka aku memutar otak bagaimana agar bisa segera menggarap skripsiku.

Pada bulan kelima usia anakku, aku mulai sedikit demi sedikit mengerjakan bab demi bab skripsiku. Sambil sesekali memboyong anakku ke kampus untuk konsultasi dengan dosen pembimbing. Awalnya agak ragu membawa anakku ikut bimbingan skripsi, namun tanggapan dosen-dosen di kampus sungguh membuatku semakin yakin, aku bisa menyelesaikan studiku ini. Aku pun dimaklumi ketika setiap kali harus bimbingan membawa Rayyan membersamai.

Kemudian aku memulai penelitian di SDIT Thariq Bin Ziyad Bekasi, alhamdulillaah karena suamiku termasuk staff pengajar disana maka kemudahan menyertai dalam perijinan penelitian, pun termasuk ketika aku dibimbing oleh guru ahli sebagai kolaborator menyusun penelitianku tentang kemampuan menulis narasi melalui metode peta pikiran. Lagi-lagi hamdalah... dan ketika kukonsultasikan pada dosen pembimbingku, tak banyak yang harus diperbaiki, sungguh semua dipermudah.

Hanya saja... aku sungguh tak tega ketika harus terus membawa Rayyan ikut bimbingan, perjalanan kami dengan mengendarai motor, berangkat pagi pulang maghrib... sungguh tak patut dialami oleh Rayyan yang saat itu masih berusia 6 bulanan lebih. Sesekali sampai rumah, ia mengalami kolik, muntah-muntah dan tubuhnya dingin, tidur pun tidak nyenyak. Beberapa kali ia pun harus mengalami kehujanan, atau kepanasan dijalanan, polusi yang terhirup. Sungguh mau tidak mau ia harus mengalami demi menemani ibunya menuntaskan studi. Tak mudah memang, melalui semua ini. Berat badan Rayyan yang terus bertambah saat itu membuat tubuhku pegal-pegal saat harus menggendongnya terus termasuk ketika bimbingan, karena ia tak bisa jauh dariku, dititipkan pada abinya pun menangis. Namun seiring berjalannya waktu... menempuh perjalanan Bekasi-Jakarta Selatan seolah menjadi keseharian kami... Rayyan pun terbiasa lelap tertidur dalam dekapanku ketika berkendara.

Satu lagi... Hebatnya suamiku juga harus diceritakan disini. Dengan setia ia mengantar aku dan Rayyan setiap kali bimbingan ke kampus. Ia menyempatkan waktu untuk mengantarku setelah sebelumnya meminta ijin pada pihak sekolah atau kampus tempat ia mengajar. Dan lagi-lagi hamdalah... pihak sekolah atau kampus pun memaklumi dan memberikan ijin. Pagi, siang, sore, malam... kebersamaan kami bertiga. Di jalanan, di kampus dan di rumah, menjadi tempat kebersamaaan kami memadu kasih, membuktikan bahwa kesetiaan cinta hadir dengan memotivasi, menyemangati dan menemani serta mengiringi setiap langkah pergi. Alhamdulillaah...

Hingga saat itu tiba. Bab demi bab selesai. Dan ujian skripsi pun dimulai... Meski harus tetap membawa Rayyan berangkat pagi-pagi dari rumah, tapi Rayyan dengan khas senyumnya memberikan suntikan semangat untukku, untuk optimis bahwa perjuangan ini hampir di titik finish. Setelah sidang skripsi berhasil kulewati ternyata ujian belum selesai menghampiri, Allah mengujiku dengan harus sidang skripsi ulang dan dinyatakan tidak lulus pada sidang skripsi pertama. Sedih berkecamuk, karena ada kesalahan sedikit di skripsiku aku harus sidang ulang. Suamiku memotivasi agar jangan menyerah, semua pasti bisa dilalui, katanya.

Sidang skripsi ulang pun berhasil dilalui.. Dan lagi-lagi hamdalah, meski harus sidang skripsi ulang, tidak sia-sia karena aku mendapat nilai A.Peluk cium buat suami dan Rayyan yang sungguh sangat mendorongku untuk terus bersemangat menyelesaikan proses demi proses meraih gelar sarjana. Sampai pada akhirnya pemberkasan wisuda, dan aku harus tetap membawa Rayyan diusianya yang sudah setahun. Pihak kampus pun masih memaklumi dan memudahkan untuk mengurus segala pernak-pernik birokrasinya. Pun ketika aku tidak bisa hadir dalam inagurasi maupun gladi resik, pihak kampus tetap memberikan penjelasan tata cara menjelang acara wisuda di Kemayoran. Dan, hamdalah.... Berakhir segala prosesnya, segala perjuangan yang berbalut peluh serta air mata. Terbayarkan semua dihari yang berbahagia. Pada hari kamis, 10 Oktober 2013, gelar S.Pd sudah kuraih dan tak henti-hentinya hamdalah terluncur dari lisanku. Betapa hal yang sulit menurutku, ternyata begitu mudah bagi Allah berkehendak.


Terima kasih.. Alhamdulillah. Pada suami, Ayatullah, M.Pd serta anakku tercinta, Rayyan Syafiq Ayatullah yang begitu setia menemani serta mengiringi perjuangan ini menemui titik finish. Semoga gelar ini menjadikan diriku sebagai pribadi yang lebih bermanfaat lagi bagi khalayak. Aamiin :)


Bercerai Akibat Facebook (True Story)

Semoga kiranya dapat diambil pelajaran berharga... Bahwa pasangan yang sah jauh lebih halal untuk dicintai. Jangan sampai media sosial atau dunia kaya membuat kita lalai dari mengurus keluarga dan rumah tangga (kehidupan nyata). Sesibuk apapun suami bekerja, toh hasil yang didapat untuk istri dan anak juga. Maka... jangan mencari pelarian di luar sana. Kembalilah menjadi ibu yang baik bagi sang anak dan istri yang shalihah bagi sang suami.

***
Ketika pertama kali mengenal facebook, aku yang hanya bekerja di dalam rumah seakan mendapat hiburan baru. Suamiku pun turut senang, karena melihat diriku tidak bosan menjaga anak di rumah. Namun, sebulan mengenal facebook, aku menilai tidak ada kesan yang istimewa pada jaringan sosial ini. Maka kucoba untuk mengenal chat (ngobrol), dan mulai asyik menikmatinya. Apalagi banyak yang ingin berkenalan denganku. Baik itu laki-laki, maupun ibu-ibu seusiaku.

Menurut suamiku, wajahku ini memang ayu. Kulitku putih bersih. Saat ini usiaku sekitar 25 tahun. Aku memasang foto profil yang cukup menarik di Facebook. Mungkin ini yang membuat banyak orang yang tertarik untuk berkenalan lebih jauh denganku. Dari sekian banyak lelaki yang menyapa aku di facebook, ada beberapa lelaki yang mengaku tertarik kepadaku. Walaupun saat itu aku mengatakan bahwa aku sudah punya anak dan suami, sehingga mereka tidak pantas untuk menyukaiku. Awalnya aku bertekad untuk tidak tergoda dengan bujuk rayu sejumlah lelaki di facebook. Namun, setelah aku mengenal Andre semuanya berubah. Andre adalah seorang PNS yang mendapat beasiswa S2 tingkat akhir salah satu PTN, berasal dari Jawa Tengah. Wajahnya tampan setampan suamiku, cerdas dan kaya. Dari postingannya aku dapat menilai, ia lelaki yang sudah menikah ini sangat religious. Sungguh, Andre betul-betul mampu menggoyahkan imanku.

Bahasanya yang santun, dan caranya ia memerhatikanku di Facebook telah membuat hati ini luluh. Setiap hari kami ngobrol lewat facebook. Bahkan kami saling bertukar pikiran tentang rumah tangga kami masing-masing. Ya…boleh dibilang kami saling curhat-curhatan. Dari sinilah perasaan aneh muncul, baik aku maupun Andre . Akhirnya, Andre menyatakan sayangnya lewat chat dan ingin berjumpa denganku. Aku yang sejak awal sudah tertarik dengan Andre tak mampu menolaknya. Namun, aku masih malu-malu menyatakan suka kepadanya.

Setelah sekian bulan hanya chat di facebook, kami pun sepakat untuk bertemu. Kami kemudian melakukan pertemuan di salah satu restoran di dikawasan timur Jakarta. Saat itu Andre datang seorang diri, sementara aku membawa anak bungsuku. Walaupun, aku menyukainya, aku tak ingin pertemuan kami menimbulkan fitnah. Perasaanku deg-degan saat bertemu dengannya. Ia pun menyapaku dengan suara berat. Ada yang lain muncul di dalam hatiku. Di tempat itu, Andre pun kembali menyatakan ketertarikannya kepadaku. Akupun menyatakan hal yang sama. Pertemuan dengan Andre di restoran tersebut bukanlah hal yang terakhir. Sejak pertemuan itu, kami pun sering janjian untuk bertemu. Bahkan, kadang, aku bertemu dengan Andre seorang diri tanpa membawa anakku. Kebetulan di rumah aku memiliki seorang pembantu rumah tangga.

Rupanya, inilah awal dari keretakan rumah tanggaku dengan suamiku. Aku sudah mulai jarang di rumah tanpa sepengetahuan suami. Maklum, setiap hari suamiku bekerja mulai dari pagi hingga malam. Sementara, kadang aku selalu bertemu dengan Andre dari siang hingga sore. Andre telah membuka mataku tentang indahnya dunia ini.

Walaupun aku sering pergi keluar rumah, aku tetap sebagai istri melayani suamiku ketika ia baru pulang dari kantor. Termasuk mengurus pakaian dan makanannya saat ia akan ke kantor di pagi hari. Setelah jalan bareng dengan Andre selama dua bulan, jujur saja hatiku setiap hari berteriak. Aku tak rela mengkhianati suamiku yang sudah memberiku tiga orang anak. Apalagi ia begitu baik dan begitu memercayaiku. Ia pun sangat disenangi oleh keluargaku.

Aku ingin lepas dari kehidupan Andre yang harus kuakui telah memberi warna baru dalam hidupku. Ia pun mengaku tulus mencintaiku. Di depanku juga ia mengaku berdosa telah mengkhianati istrinya. Tapi, ia pun tak bisa meninggalkanku. Bulan berganti bulan, hubunganku dengan Andre akhirnya ketahuan juga oleh suamiku. Aku, ketahuan selingkuh setelah suamiku membaca SMS Andre yang berisi kata-kata mesra. Ia pun memaksa aku untuk mengaku.

Aku saat itu tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi suamiku langsung menghubungi nomor ponsel Andre. Awalnya Andre membantah, dan mengatakan bahwa ia dan diriku hanya berteman. Namun, setelah diancam oleh suamiku, Andre mengakuinya dan meminta maaf. Namun, suamiku sudah terlanjur sakit. Ia pun langsung menceraikanku. Saat ini aku, dan suamiku masih dalam tahap perceraian.


Sungguh aku menyesal sekarang. Namun, dalam doaku setiap selesai shalat aku memohon maaf kepada Allah SWT, kepada suamiku, kepada anak-anakku dan kepada keluargaku karena aku telah menyia-nyiakan cinta mereka. Aku ikhlas menerima ini semua atas konsekuensi dari perbuatanku sendiri. Hanya saja aku masih tetap berharap untuk bisa kembali bersama dengan suamiku, dan akan aku buktikan untuk menjadi istri yang baik.

Inspirasi Status FB Tema Cinta Pasutri [Sept '2013]

FB: Deasy Lyna Tsuraya Full
_______________________
 Dan pada kesetiaan seorang istri.., sudah semestinya terus mengabdi, bekerja sepenuh hati. Bukan untuk mutlak memiliki, namun untuk menjaganya tetap di hati.
Mungkin tak bisa terus mendampingi... mengawasi hari demi hari. Biarlah Tuhan penjaga hati, yang selalu menautkan hati, untuk kembali.. untuk menjadikan rumah sebagai penghangat antara pasutri.

***

Betapa pentingnya obrolan sebelum tidur pada pasutri... Meluruskan apa yg salah dipahami, meningkatkan harmonisasi suami istri, merekatkan cinta yg harus terus bersemi. Betapa pentingnya komunikasi terjadi, sekalipun lelah bekerja sehari-hari. Semoga... Menjadi jalan dalam membina keluarga yg Islami. Aamiin

***

Karena hari ini, esok ataupun nanti.. cinta kita harus terus bersemi. Memberinya pupuk kasih sayang dan menyiraminya dengan kesetiaan. Semoga kian hari, cintanya makin diberkahi.

***

 Dan pintanya seorang istri, hanya keselamatan pada sang suami saat pulang bekerja. Peluhnya yang mengalir semoga membawa berkah dari rejeki yang didapat. Insya Allah

***

 Apa lagi yg diharapkan suami ketika pulang kerja... Selain disambut dg wajah teduh sang istri, dibuatkannya minuman hangat dan ditemani pembicaraan sederhana tentang seharian yg terjadi. Apa lagi yg dibutuhkan suami dari seorang istri.. Selain hanya menjadi pendengar setia, merespon pembicaraan dan mendukung apapun yg jadi keputusannya.
Kiranya begitulah semestinya... Seorang istri harus bisa melayani, mengayomi dan memotivasi. Sepertinya, jika itu semua dilakukan ikhlas, maka rumah tangga akan terus harmonis. Sepakat?

Adaptasi Perbedaan

Mendapatkan pasangan ideal, menjadi idaman bagi setiap wanita... Apatah lagi, bagi seorang yang tidak mengenal kata "pacaran". Saat itu, yang terbayang ketika ada pria yang melamarnya adalah bahwa ia telah menemukan cinta sejatinya, yang akan membawa mereka menuju pelaminan. Bahagianya membuncah. Tanpa khawatir akan hal-hal yang akan terjadi kelak.

Namun, tidak bisa dipungkiri... Siapapun yang menikah tanpa mengenal jalur pacaran, ia harus siap berusaha keras untuk bisa beradaptasi dengan pasangannya. Sekalipun sesama ikhwah, yang mengerti agama. Konon, ketidakcocokan satu sama lain tentu ada. Seperti ketika wanita menjadi seorang istri, maka ia harus siap mengurus keluarga dan rumah tangganya. Begitupula para pria, ia harus siap membagi waktu dan penghasilannya untuk keluarga.

Nah, disini letak perselisihan bisa terjadi. Sebagai seorang istri, berhak mengetahu sumber penghasilan suami dan berhak pula menturutcampuri apa yang menjadi pilihan suami. Bila sang suami mendapat proyek kerjaan atau mau melakukan sebuah aktivitas, sebaiknya terbuka pada sang istri, sehingga istri tidak kaget ketika penghasilan bulan ini bertambah atau bulan depan berkurang. Pun termasuk, ketika sang suami pulang larut malam karena ada lembur kerjaan sementara istri sudah manyun menyambut sang suami lantara tidak tahu menahu alasan suami pulang larut.

Tidak ada yang salah keduanya, hanya saja komunikasi yang menjadi penghambat dalam interaksi mereka. Bagaimanapun, istri ingin menjadi yang terbaik bagi suaminya, pun suami ingin memberi yang terbaik bagi istrinya. Sepertinya, mencoba menerima dan saling terbuka jadi solusinya. Apapun yang menjadi pilihan, keputusan atau resiko yang dialami oleh suami, tentu harus dirasakan sang istri juga, begitupula sebaliknya. Karena sepasang suami istri seperti sepasang sepatu, yang bila tidak ada salah satunya akan membuatnya tidak sempurna. Jadi... belajar beradaptasi dengan pasangan harus terus menerus, tiada henti dan tanpa kenal lelah. Karena pasangan kita adalah makhluk Allah yang berbeda, dan akan terus berbeda sampai kapanpun, dan oleh sebab itu kita hadir untuk mengisi kekurangan satu sama lain serta menutupi aibnya.

Yuk.. semangattt. Untuk terus lakukan yang terbaik, jalankan peran terbaik, sebagai seorang istri maupun suami :)

Sabtu Minggu Bermakna


“Mas, aku capek... seharian di rumah mengurus A-Z seorang diri, belum lagi ditambah anak kita yang suka rewel, menumpahkan sesuatu dan membuat rumah seperti kapal pecah. Apa mas gak bisa pulang lebih cepat, kenapa harus malam terus pulangnya sih?”

“Dek, mas kan baru dapat proyek baru, jadi semakin padat kerjaan mas di kantor. Lagian mas kerja ini kan buat kamu dan anak kita juga.. Tolong lah ngertiin mas”

“Aduuuh, aku tuh udah sering banget ngertiin mas. Sementara mas yang gak ngertiin aku. Aku mau mas yang dulu, yang sempat nyuci baju, ngajak main anak dan selalu bersama saat makan malam, dan sebelum tidur kita menyempatkan bercerita. Sekarang mas udah gak romantis, mas sibuk dengan dunia mas sendiri. Aku capek.. capek, dan bosan dengan semua ini!”

“Dek, bersyukurlah dengan apa yang udah ada sekarang. Mas udah dikasih pekerjaan banyak, bisa nafkahin kamu dan anak kita. Untuk waktu kebersamaan kita, mas janji setiap sabtu dan minggu akan luangkan waktu untuk bisa bantuin kamu mencuci baju, mencuci piring dan kita juga bisa agendakan untuk makan di luar, ngajak main anak kita atau belanja keperluanmu. Gimana?”

“Benar lho ya mas? Mas harus janji dengan ucapan mas barusan. Pokoknya sabtu dan minggu itu jadi hari kita bersama dan gak boleh diganggu gugat, gimana?”

“Iya sayang, mas janji...”

 ***



Kebersamaan dalam suatu rumah tangga penting sekali karena akan menimbulkan komunikasi antara suami istri. Komunikasi disini penting agar seorang suami maupun istri dapat saling terbuka mengenai permasalahannya masing-masing untuk mencari jalan keluar. Melalui komunikasi, kita bisa mendiskusikan jalan terbaik agar kehidupan berkeluarga makin baik dan bahagia.

Tetapi, seiring dengan perjalanan waktu dan dengan adanya kesibukan suami maupun istri, kebersamaan dalam keluarga sering terlupakan. Suami sibuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sebaliknya istri sibuk mengurusi rumah tangga maupun anak-anak. Suami pergi bekerja pagi dan pulang larut malam sehingga saat suaminya pulang mungkin istri juga telah tidur karena kecapaian. Bila masing-masing memiliki waktu luang, akan mengerjakan kesenangan masing-masing. Seakan-akan tidak perlu lagi waktu untuk bersama layaknya orang pacaran dimana sesibuk apapun, masih menyisakan waktu minimal seminggu sekali untuk merasakan kebersamaaan dengan pasangan. 

Jangan sampai, lantaran kesibukan masing-masing sehingga tak ada waktu untuk berdua membuat kita saling menyalahkan. Sikap mudah menyalahkan pasangan ini muncul akibat perbedaan persepsi. Contoh sederhana masalah ini, misalnya istri menduga suami tidak sayang lagi karena tidak ada waktu untuk berduaan dengan sang istri. Komunikasi antara pasangan tersebut akan gagal (communication breakdowns) karena masing-masing menafsirkan pernyataan pasangan dengan kerangka persepsinya sehingga timbulah perselisihan.

Inilah pentingnya bayan (penjelasan) dari pasangan. Kita harus bisa membedakan mana keluhan dan mana yang namanya kritik pribadi. Misalnya dalam keluhan, istri secara spesisifik mengungkapkan apa yang membuatnya tidak senang dan mengkritik tindakan suami karena tidak membantu pekerjaan rumah tangga, dengan menyatakan mengapa tindakan suaminya tidak menyenangkan. "Ketika Mas tidak membantuku, aku jadi merasa bahwa Mas sudah tidak memperdulikanku." Ungkapan tegas, tidak berang atau pasif ini jauh lebih efektif daripada kritik pribadi yang memaklumkan perang global terhadap pasangan. "Mas selalu mementingkan diri sendiri. Mas tidak pernah memperhatikan aku. Memang Mas egois." Tentunya kritik semacam ini akan membuat orang yang terkena merasa tidak disukai, dipersalahkan dan tidak cakap. Semuanya cenderung menimbulkan respons yang defensif daripada upaya untuk memperbaiki situasi.

Maka, komunikasi adalah keterampilan paling penting dalam kehidupan kita. Islam memerintahkan umatnya agar selalu berbuat baik kepada sesama manusia, terlebih kepada pasangan hidup kita. Allah SWT berfirman di Al Qur'an surah Al Qoshosh ayat 77; "Dan berbuat baiklah kamu sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu."

Komunikasi yang baik akan tercipta jika memiliki waktu untuk bersama. Hal ini pun sangat dibutuhkan dalam membuat pernikahan terasa hidup. Tetapi kadang-kadang sulit untuk mendapatkan waktu luang bersama. Untuk mendapatkan waktu luang bersama diperlukan keinginan untuk menghabiskan waktu bersama dan adanya kesempatan. Karena dengan adanya keinginan, kesempatan akan dapat diusahakan . Maka, kiranya hari sabtu dan minggu bisa diagendakan oleh pasangan suami istri untuk melakukan kegiatan bersama. Bila hari tersebut tiba, kita  harus bisa mengatakan “tidak” pada kegiatan kita lainnya. Pada dua hari tersebut, buatlah hal-hal biasa menjadi istimewa. Misalnya suami istri dapat melakukan pijatan punggung sewaktu menonton TV bersama, atau bisa juga melaksanakan aktivitas olahraga bersama-sama misalnya berenang, jogging dll. Atau bisa juga kita isi dengan berbagi cerita, misal ketika seorang suami menceritakan kisah masa kecilnya, aktivitas kantornya atau cerita istri tentang kesehariannya mengajak bermain anak. Selain itu, bisa pula sabtu dan minggu diagendakan untuk membagi tugas dalam pekerjaan rumah tangga. Suami yang mencuci baju, dan istri yang menjemurnya. Atau istri yang menyetrika, dan suami yang melipat serta memasukan bajunya ke lemari. Semua bisa dilakukan bersama jika ada kemauan, sekalipun hanya tersedia waktu sabtu dan minggu untuk bersama.

Jika kita ingin menjadi pasangan yang bahagia, kita akan merasakan pentingnya waktu luang sehari dua hari untuk bersama dan menjalin komunikasi dengan baik. Sehingga rumah tangga yang bahagia pun mampu kita dapatkan.

Tentang ~DLT

Foto Saya

Saya adalah:
*Ibu Rumah Tangga yang bertugas menyukseskan dalam membentuk serta membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, rahmah di jalan dakwah.
*Manager Smart One Corp yang bertugas meraup rejeki, dari bisnis berpondasi Islami. Membawahi bidang Smart One Learning Centre; membuka bimbingan belajar serta lembaga privat berkualitas. Serta Smart One Organizer; pengadaan training motivasi, outbond serta acara outdoor lainnya.
*Penulis yang telah menghasilkan beragam karya, antara lain Buku Sederhananya Cinta dan Panduan Hebat MenCETAK Pelajar. Selain itu juga sebagai penulis artikel-artikel serta kontributor di blog: http://deasukata.blogspot.com/
*Pembicara/trainer dalam berbagai forum kemuslimahan.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Postingan Populer

Komentar Pengunjung

~DLT Twitter

Butuh Guru Privat?

Butuh Guru Privat?
BIRO PRIVAT DAN KELOMPOK BELAJAR SMART ONE (SD, SMP, SMA, Umum). Menyediakan tenaga pengajar profesional untuk mengajar privat materi semua Mata Pelajaran, Calistung, Bahasa Asing, maupun Al-Quran. Free konsultasi gratis, Best price and Best quality. Hub: 0812-83810066

Buku Duet Bareng Suami

Buku Duet Bareng Suami
Siapapun bisa berprestasi. Tidak ada pelajar yang tidak berhasil dalam bidang akademik maupun non-akademiknya. Proses menuju pelajar yang sukses berprestasi bisa diawali dengan menemukan potensi kemudian mengembangkan bakat yang ada dalam diri. Setelah itu, mulailah memperluas kemampuan diri dengan banyak belajar dan menanamkan pemikiran bahwa belajar tidak seberat yang dibayangkan. Dengan mengetahui cara belajar yang terbaik, maka kita akan tahu bagaimana cara belajar, membaca, dan mengkaji sesuatu dengan lebih cepat dan efektif. Keyakinan diri bahwa Allah sudah menakdirkan setiap orang itu cerdas, hanya saja berbeda kecerdasannya satu sama lain. Setiap jenis kecerdasan dapat dioptimalkan melalui proses pembelajaran kuantum yang melibatkan kedua belah bagian otak sehingga akan melejitkan prestasi seorang pelajar. Beranilah bermimpi dan memulainya dengan berpikir besar dalam meraih prestasi. Jadilah agen perubahan dalam menghadapi tantangan jaman. Cetakan 1, Januari 2013 Harga: Rp 30.000,- (belum termasuk ongkir) Info pemesanan hub: 021-93208484 atau 0812-83810066