"Tidak ada yang sempurna di dunia.. Jika begitu adanya, mengapa masih mengharap berlebih dari apa yang sudah diberi oleh-Nya? Sekalipun masalah yang menyapa, ia bukan masalah yang tak ada jalan keluarnya. Karena pada-Nya saja, kita mengharap dan meminta.."

Postingan Populer

Label

Menjadi Ibu Rumah Tangga Bahagia, Pasti Bisa!


 

Beberapa pekan belakangan ini, saya membentuk sebuah grup via WhatsApp, yang diberi nama IRAMA Bahagia. Kata IRAMA bukanlah tanpa makna.. Selain karena singkatan dari Ibu Rumah Tangga (walau sedikit maksa. hehe) namun juga saya ingin memberi label pada IRT untuk bisa berirama dalam menjalankan setiap aktivitas kerumahtanggaannya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring oleh Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, Irama adalah gerakan berturut-turut secara teratur (http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi/index.php). Saya ingin memaknai bahwa menjadi ibu rumah tangga adalah sebuah pekerjaan dengan gerakan yang berturut-turut dan turun naiknya beraturan. Itu artinya, aktivitas menjadi ibu rumah tangga tidak berjalan datar atau mulus saja melainkan juga mengalami naik turun yang beraturan. Apapun kaitannya antara ibu rumah tangga dan IRAMA, saya menambahkan di belakangnya dengan kata “bahagia”. Itu artinya saya hanya ingin menyampaikan melalui tulisan ini bahwa menjadi ibu rumah tangga tidaklah mudah, ia harus bisa menjalani sebuah aktivitas yang dilakukan berturut-turut dan naik turunnya secara beraturan. Dan kesemuanya itu diharapkan dapat dilakukan oleh IRT dengan penuh rasa bahagia.

Singkat cerita, di grup IRAMA Bahagia… Saya jadi mengenal dengan beberapa IRT lainnya yang luar biasa aktivitasnya. Ada yang anak sulungnya sudah SMA, ada juga yang sudah punya anak 3, ada lagi yang punya anak hanya dua tapi jaraknya berdekatan. Kami bisa berbagi cerita di sini, baik suka maupun duka. Sukanya, ada yang share tentang aktivitasnya bersama sang suami dan anak yang menggembirakan kemudian aktivitas berjualan onlinenya yang laris manis. Dukanya, ini yang lebih banyak. Ada yang share mengenai pengalaman berhubungan jarak jauh dengan suami dan si istri harus tinggal dengan mertua, ada juga yang membahas tentang kesehariannya bersama anak yang jaraknya dekat satu sama lain sehingga butuh pengawasan ekstra, dan ada pula yang share terkait kondisi anaknya yang sering sakit dan masih banyak cerita lainnya. Apapun itu, saya rasa semua yang dialami oleh IRT ini juga dialami oleh IRT lainnya. Meski saya di sini bukanlah siapa-siapa, bukan IRT yang sudah berpengalaman menjalani pernikahan hingga belasan tahun, tapi setidaknya saya ingin mengajak diri saya dan para IRT lainnya untuk bisa bahagia dalam menjalani aktivitas rumah tangganya.

Saya tahu tidaklah mudah menjadi IRT, saya juga sering berkeluh kesah dan merasa menderita dalam menjalani aktivitas IRT yang sehari 24 jam selama seminggu. Saya sampai bertanya-tanya kapan “me time” saya ya? Tapi tenang, kita hanya butuh meluangkan waktu untuk sebentar merenung. Nyatanya, Allah kasih kesempatan kita untuk menerima nikmat dari-Nya. Nikmat kesehatan dengan nafas yang masih berhembus dan ketika bangun tidur, nampak di sebelah kanan kiri kita ada suami dan anak-anak yang kita sayangi. Kemudian nikmat ketika sang anak bila diperhatikan, tumbuh kembangnya semakin baik. Banyak hal-hal yang sudah bisa dilakukan olehnya. Dan juga nikmat ketika suami masih diberi kesehatan untuk mampu melangkahkan kaki mengadu nasib demi menafkahi anak dan istrinya. Maka, bukankah itu semua nikmat yang telah Allah beri pada kita selaku ibu rumah tangga? Jangan sekali-kali kita mengabaikan nikmat pemberian dari-Nya. Kita hanya butuh waktu untuk merenung dan mengingat sebanyak-banyaknya nikmat yang telah Allah beri selama ini. Untuk kemudian kita syukuri dan ucap hamdalah.

Ats-Tsa’alabi pernah meriwayatkan hadis dari Aisyah, Rasul menyatakan bahwa tidak ada yang pantas bagi seorang istri yang membenahi kondisi rumah kecuali Allah akan mencatat aktivitas itu sebagai kebajikan dan bakal menghapus dosanya lalu meninggikan derajatnya.

Subhanallah ya, menjadi IRT saja bisa menghapus dosa dan ditinggikan derajatnya. Lalu, jika masih kita merasa tidak bahagia menjadi ibu rumah tangga… Cobalah tengok mereka yang sudah mengalami perpisahan dengan pasangannya masing-masing. Mereka yang hidup sebagai single parent tidak lantas bunuh diri karena tidak mampu bertahan hidup. Banyak yang berjuang sebagai orang tua tunggal namun berhasil dalam kehidupannya sehari-hari. Kita bisa belajar dari mereka untuk tetap berjuang dan bersabar mengurus anak serta suami yang masih ada di sisi. Karena saat ini, anak dan suami adalah harta berharga dan kita harus mensyukurinya meski terasa melelahkan dalam menjalani semuanya.

Mari kita ingat kembali, kebersamaan kita dengan suami serta anak ketika pergi liburan. Karena saya yakin sebagai ibu rumah tangga tentu pernah berpergian bersama dengan keluarga. Walau mungkin tidak bepergian jauh ke tempat rekreasi atau hiburan lainnya, namun berjalan kaki bersama anak dan suami mengitari kompleks rumah adalah kebahagiaan tersendiri, bukan? Lagi-lagi kita harus mensyukurinya, bahwa di tengah kepadatan tugas kita di rumah sebagai IRT, kita masih diberi kesempatan dan waktu luang untuk bercanda tawa menikmati momen kebersamaan dengan orang-orang yang kita cintai.

Lalu, bagaimana dengan mereka para IRT yang berhubungan jarak jauh dengan suaminya yang mungkin kerja di luar kota? IRT yang mengalami hal seperti ini mungkin merasa kesepian, merasa sangat letih karena tidak ada tempat berbagi soal pekerjaan rumah tangga dan butuh perhatian atas aktivitasnya sehari-hari yang begitu padat. Padahal, kecanggihan teknologi seharusnya membuat kita lebih bersyukur bahwa kita masih bisa menghubungi suami yang di luar kota atau mengirim video call demi memenuhi hasrat kerinduan dengan pasangan jiwa.

Lagi-lagi… Mungkin seharusnya tidak ada alasan untuk tidak bahagia menjadi IRT. Apapun kondisinya, kita harus tetap bersyukur dan selalu bahagia. Teringat dengan sebuah hadits dari Anas bin Malik ra. Ia mengatakan, “Para shahabiyah mendatangi Nabi SAW seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, kaum lelaki pergi dengan membawa keutamaan jihad fii sabilillah, sedangkan kami tidak memiliki suatu amalan yang bisa menyamai amal para mujahidin fii sabilillah.’ Maka beliau pun menjawab, ‘Pekerjaan salah seorang di antara kalian di rumahnya menyamai amalan para mujahidin fii sabilillah’.” (HR. Al-Bazzar)

Sesungguhnya Ini adalah seruan untuk membuka pintu harapan bagi para IRT dalam menjalankan perannya sebagai istri sekaligus ibu di rumahnya. Tidak ada yang sia-sia, semua kelelahan serta pengorbanan untuk suami dan anak tercinta, insya Allah akan dibalas berlipat ganda oleh-Nya. Menjadi Ibu Rumah Tangga Bahagia, Pasti Bisa!

Cerdas Perilaku dan Sikap



Cerdas itu bukan hanya secara akademik yang bisa diukur dengan nilai. Tapi cerdas itu ketika ia tahu memposisikan diri di mana ia berada. Ia paham bahwa tidak boleh bersendawa di hadapan lawan bicara. Ia paham bahwa tidak boleh buang angin (dibaca kentut) sembarangan. Ia paham bahwa tidak boleh mengangkat kaki ke bangku saat makan di meja makan dan ia tahu bahwa tidak boleh membuang ingus atau meludah di jalanan yang kering dan dilalui orang banyak. Cerdas itu.. bukan titel yang utama atau gelar pendidikan yang tinggi. Tapi cerdas itu ketika ia tahu tata krama, adab atau sopan santun dalam bertemu orang. Menatap lawan bicara, tidak memotong pembicaraan orang lain dan mau jadi pendengar sejati bukan hanya pembicara sejati. Cerdas itu ketika ia peduli... Peduli dengan kondisi keluarganya, dengan pasangan dan anak-anaknya, bahkan dengan kerabat karib atau teman dekat. Bukan yang hidup dengan dunianya sendiri, shalih sendiri, sukses sendiri, berhasil sendiri... Padahal kalau sudah tutup usia nanti ia tak bisa sendiri, harus dibantu orang lain dikafani, dishalatkan. Maka... Cerdas menurutmu seperti apa? Cerdas bagi saya adalah ketika ia tak hanya pandai berkata namun mau menerima masukkan dan kritikan dari orang lain. Sungguh... semoga saya menjadi salah satu orang yang cerdas. Saya terima kritikan dan masukan berharganya yaa...

Belum Waktunya



Setiap orang ada jalannya masing-masing. Jika kita bertanya mengapa dia begitu, mengapa dia bisa seperti itu atau mengapa ia memperoleh ini itu.. Maka carilah alasan sebanyak2nya. Bahwa mungkin kita belum waktunya, belum cukup usia tuk menjadi seperti mereka, belum waktu memperoleh seperti apa yang mereka miliki. Ini hanya masalah waktu.. Sekarang mungkin kita begini, ke depannya siapa yang bisa memprediksi? Oleh karenanya.. Kita masih diberi kesempatan mengejar ketertinggalan.. Untuk bisa menyusul mereka2 yang lebih 'maju'. Jangan berkecil hati.. Semangat untuk selalu mengupgrade diri, semangat lebih baik.

Yuk, Gabung HBC (Home Business Community)!!!

HBC (Home Business Community) merupakan konsep bisnis yang dibangun dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota. Sehingga sistem ini mengharapkan adanya kebersamaan dan rasa memiliki serta bekerja sama dalam membangun usaha bersama. Untuk permodalan saya menyebutnya dengan istilah saham. Dengan tujuan agar lebih dipahami dan dapat dimiliki oleh semua anggota. Memang suatu keniscayaan bahwa semua jenis dan bentuk usaha butuh modal dana yang mencukupi.

Dalam hal ini, HBC memulai dari nilai saham yang mungkin dianggap kecil. Akan tetapi, kita akan bersinergi dengan bisnis yang sudah memiliki omset sampai dengan ratusan juta rupiah. Saya mengajak siapa saja menanam modal hanya 50.000 untuk dapat berbisnis ratusan juta rupiah. Memang hal tersebut terdengar aneh bahkan nyeleneh. Semoga hal yang aneh dan nyeleneh ini akan kita buktikan menjadi hal yang positif dan mendatangkan banyak keuntungan bagi kita semua dan kemaslahatan umat.

Ada dua hal penting yang harus disiapkan dalam berbisnis, yaitu Modal dan Manajemen. Untuk permodalan kita coba memulai dengan jumlah 10.000.000,00 juta rupiah. Dana ini didapatkan dari anggota HBC, sebagai contoh simulasi :
1 anggota berinvestasi @ 50.000,00 x 200 = 10.000.000,00

Dengan adanya sistem patungan modal jumlah yang cukup besar terasa ringan. Dana tersebut kita namakan saham bersama. Yang kemudian saham tersebut akan kita pergunakan untuk program bisnis yang dikelola oleh pihak manajemen. Salah satunya industri rumahan FASTCLEAN yang berkembang di daerah Tasikmalaya sekitarnya.

Anda berminat? Silakan lebih lanjut hubungi Ayat 085780811339 atau Deasy 081283810066.











Maafkan Ummi, Nak!

Malam ini, saya menangis sejadi-jadinya. Saya sangat merasa bersalah terhadap anak sendiri, Rayyan. Saya baru menyadari kesalahan saya ketika rayyan menjelang mau tidurnya, ia tidak rewel dan tidak meminta saya tuk ngelonin dia. Ketika dia amat cuek, saya pun berkata "ehh, Rayyan kok mau bobok ga bilang sama ummi. Tapi jangan bobok dulu nak, sebentar lagi abi pulang bawa roti bakar lho. Katanya tadi Rayyan laper?" Namun sepertinya usahaku sia-sia. Rayyan mulai membalikkan badan dan memeluk guling lantas memejamkan mata. Sampailah pada akhirnya saya baru menyadari, apakah ini sebuah kebahagiaan karena Rayyan berhasil tidur tanpa melakukan ritual seperti biasanya ataukah ini sebuah kesalahan karena saya kurang mengajaknya bermain sehingga tau-tau ia sudah mau tidur saja? Entahlah...

Tapi yang pasti, setelah Rayyan tertidur.. Tetiba saja air mata mengalir begitu derasnya. Ya! Karena saya amat menyesal. Bayangan-bayangan aktivitas saya dan Rayyan sebelum tidur kembali muncul. Ya, Rayyan yang sedari tadi mengajak saya bermain kuda-kudaan, kemudian Rayyan mengajak saya untuk memangku dirinya kemudian berguling-guling di atas kasur dan mencium-cium saya sementara saya asik memegang HP, ya karena saya sedang ada diskusi di grup WA bersama para ibu rumah tangga sehingga beberapa kali saya mengabaikan Rayyan yang berusaha mengajak saya bermain dan bercanda tawa. Sungguh, saya baru menyadari bahwa quality time antara kami malam ini GAGAL. Saya yang bersalah, karena pendeknya malam ini dilalui begitu saja dengan Rayyan yang nonton video Thomas di laptop saya kemudian ia berguling-guling di kasur dan menidih tubuh saya namun semuanya itu tanpa saya dampingi. Memang saya saat itu berada di sebelahnya juga, namun keberadan saya nampaknya tak berarti apa-apa karena toh Rayyan tetap asyik main sendiri. Dari sini saya sangat paham, bahwa ini sebuah teguran... sepele tapi membuat saya sedih. Karena Allah gerakkan rayyan untuk tidak minta dikelonin saat mau tidur, ia pun tidak berusaha mengajak saya untuk tidur yaa mungkin itu, karena ia sudah mencoba mengajak bermain umminya dan tidak diperdulikan maka ia juga kapok untuk mengajak saya tidur bersamanya.


Wallahi, air mata saya masih saja mengalir sampai saat saya menuliskan ini semua. Sungguh saya sangat menyesal. Dan saya berusaha untuk mengiqob diri. Pasca Rayyan tertidur, saya tidak mau melanjutkan memegang HP. Saya letakkan HP dalam keadaan off di atas meja kemudian saya dekati Rayyan dan membaringkan tubuh di sebelahnya sambil memeluk tubuh mungilnya sambil berbisik di teliganya "Maafkan ummi, nak! Malam ini ummi kurang memperhatikanmu. Ummi janji esok dan seterusnya insya Allah akan lebih mementingkan kamu ketimbang yang lainnya." Maka, setelah saya menuliskan ini semua, saya ikut bersama Rayyan tertidur, berharap mendapat mimpi yang indah bersama Rayyan. Aamiin

Menjadi Editor dari Rumah

Malam ini sepertinya ingin sedikit mencurahkan isi hati serta pikiran yang membelenggu jiwa. Mumpung anak lanangku sudah tidur lelap, dan suami masih berkumpul dalam lingkaran pengajiannya. Saya, sudah gatel ingin menulis ini. Lebih tepatnya ingin berbagi suka duka yang saya rasakan selama ini. Heuheu :D

Bekerja jadi editor.. Saya mencoba menikmatinya. Qadarullahnya, passion saya memang berkecimpung di bidang kepenulisan. Jadi, udah gak aneh baca tulisan atau lihat artikel di laptop yang berhalaman-halaman. Saya menerima pekerjaan ini, karena memang saya menyukai latar belakangnya dan selain itu juga saya bisa bekerja namun tetap berada di rumah. Puji syukur alhamdulillah, saya mendapat kesempatan untuk terus mengasah bakat serta kemampuan menulis. Karena meski saya hanya bertugas mengedit, tapi saya harus banyak belajar untuk mengetahui dasar-dasar kebahasaan seperti EYD, penggunaan kata baku-tidak baku dan atau sesuai dengan KBBI atau tidak. Ya begitulah.. dengan memperoleh pekerjaan yang seperti ini, saya sangat syukuri tentunya terlebih karena saya masih tetap bisa mengurus anak serta suami di rumah :)

Namun, kegalauan itu muncul... Kalau saya lagi kurang enak badan atau anak sedang rewel-rewelnya. Sudah pasti kerjaan terbengkalai. Karena bekerja dari rumah sebagai IRT itu agak sulit mengatur waktunya dengan pekerjaan saya sebagai editor. Contohnya saja, jam kerja saya adalah dari pkl 8 pagi sampai pkl 4 sore. Dalam rentang waktu sekian itu, saya harus bisa menyelesaikan pengeditan naskah sebanyak 10 konten. Dan ternyata setiap kali saya sudah berada di depan laptop... anak saya, Rayyan tetiba minta disetelkan video Thomas and Friends, kontan saya tidak bisa menolak dan mengalah. Pun akhirnya urung mengedit satu naskah lantaran laptopnya dipakai anak menonton video.. Sedangkan jika menunggu Rayyan tidur siang, ehh saya pun sudah lelah karena selama Rayyan menonton video di laptop saya bisa menyelesaikan pekerjaan RT seperti nyuci piring, menyetrika baju, nyapu ngepel dan lain sebagainya jadi kalau sudah ngelonin Rayyan tidur siang, mau tidak mau saya ikut tidak sadarkan diri, Haha.

Nah, adakalanya saya pintar mencari waktu untuk bisa menyelesaikan editan naskah. Terkadang, ketika Rayyan sudah tidur siang, saya memaksakan diri untuk membuka mata lebar-lebar sambil dikasih candu minuman berkafein alias kopi. Alhasil beberapa kali terapi seperti ini dilakukan, saya langsung bisa mengedit naskah hingga 5 naskah sekali jadi. Ini tentu sebuah keberhasilan yang perlu diapresiasi. Lantas bagaimana mengapresiasinya? Biasanya setelah saya ngedit naskah sebanyak 5 konten itu dalam satu waktu, saya langsung merebahkan diri di kasur dan bablas tertidur hingga 3-4 jam. Tetiba bangun tidur sudah ada Rayyan yang sedang asyik main sendiri, haha.

Selama bekerja sebagai IRT, asli saya ga pernah dituntut apa-apa sama suami atau anak. Saya kerja semau saya sendiri. Kalau lagi semangat, seharian saya bisa mengerjakan 3-4 pekerjaan RT seperti pagi-pagi mencuci baju kemudian menjemurnya setelah itu mencuci piring kemudian menyapu dan mengepel lantai.. Semuanya bisa saya kerjakan dengan penuh semangat. Namun, kalau saya sedang lelah dan lagi moody, bisa-bisa semua pekerjaan RT menumpuk dan rumah rasanya kotor sekali. Ihikz.. Inilah seharusnya ada ART yang bisa membantu menangani hal macam gini namun sayang amat malang, nyari ART begitu sulit di jaman serba canggih seperti ini. Sekalinya dapet, udah paruh baya, kakinya sulit berjalan jauh karena ada reumatik. Jaman padahal udah canggih, tapi ART ini masih aja ngandelin kaki untuk kesana kemari #pilihan.

Nah balik lagi ke cerita saya sebagai editor. Jujur juga nih, adakalanya saya merasa kerepotan sekali ketika sudah lapang berada di depan laptop lantas ketika mau menyambungkan koneksi ke internet ternyata jaringannya error atau website sedang dalam perbaikan. Alamat gagal total lagi saya mengedit dan mengupload naskah padahal saat itu Rayyan sudah tidur lelap atau sedang asyik menonton film kartun. Nah, kalau sudah begitu... target yang semestinya tercapai sebanyak 10 naskah mau tidak mau hanya bisa terupload kurang lebih 5-7 naskah saja. Itu pun kadang saya mencari naskah yang isinya hanya 1-2 halaman saja dan atau saya utamakan yang mengirim naskah berupa syair atau puisi karena gampang diedit hehe.

Kalau soal sah atau tidak sahnya naskah yang saya upload sebenarnya sudah ada panduan dari redaktur, tapi mau bagaimana lagi. Saya curhat pun dan mengeluhkan kondisi saya, entah dimaklumi atau tidak. Mungkin maunya tahu beres saja. Makanya, beberapa kali saya melakukan aksi yang seperti itu, yang terpenting saya mengedit dan mengupload naskah sesuai target yang ditentukan.

Namanya jadi ibu rumah tangga. Saya gak bisa dikasih jam kerja. Karena saya bekerja sesuai kondisi dan situasi. Nah yang begini ini, ketika Rayyan lagi rewel sementara saya juga harus tetap menyelesaikan pekerjaan rumah tangga terus saya juga harus ngedit dan ngupload, rasanya saya seperti dikejar-kejar apalagi ketika lihat jam di dinding yang sudah menunjukkan batas akhir penguploadan yaitu pkl 4 sore. Alhasil saya bersegera membuka file naskah dan mulai mengedit, nah yang saya gak sangka-sangka ternyata naskah pertama yang saya edit itu berjumlah 6 halaman. Kemudian saya cek naskah kedua ternyata isinya cerpen dan lebih panjang lagi karena berjumlah 10 halaman WOW dan yang ketiga saya membuka naskah ternyata isinya hanya 4 halaman namun isinya berupa tafsir ayat suci Al-Quran. Asli kalau yang begini, saya udah pasti nyerah. Maksudnya nyerah untuk gak edit 3 naskah itu? Bukan... saya gak nyerah ngedit 3 naskah itu tapi saya nyerah ngedit naskah-naskah berikutnya. Makanya cuma bisa ngedit maksimal 5 naskah kalau mengalami hal semacam ini. Akhirnya gak sesuai target kan, dan cuma bisa bergumam dalam hati.. "pasrah deh mau digaji berapa nih akhir bulan?" Heuheu..

Udah gitu.. dukanya lagi jadi editor, asli ini mah saya jujur aja. Ada beberapa penulis yang tetiba mengajak saya berteman di dunia maya atau menghubungi saya via email, cuma gegara minta diedit kembali naskah yang sudah saya publish ke media lantaran ada yang perlu diperbaiki atau ada yang perlu ditambahkan. Nah.. ini yang membuat saya makin tambah stress. Karena ketika saya sudah tutup laptop dan mengakhiri jam kerja saya, lantas membaca email atau pesan FB di Hp minta diedit tulisan mereka yang telah dipublish, maka mohon maaf saya keluarkan kalimat "lain kali, tolong diperiksa dulu tulisannya sebelum dikirim ke email redaksi ya". Bukan apa-apa, gak mungkin saya buka laptop lagi, nunggu terkoneksi lagi dan belum lagi baru mau ngedit ehh anakku udah rewel minta ditemenin main kuda-kudaan. Alhasil permintaan mereka para penulis baru bisa saya kabulkan keesokan harinya. Maaf ya... Tolong ngertiin saya juga.

Ya begitulah... keluhan saya malam ini. Pada intinya sih, saya berharap untuk bisa bertahan dengan pekerjaan ini. Karena mendapat pekerjaan seperti ini gak mudah. Saya termasuk yang beruntung bisa bekerja hanya dari rumah. Tapi, namanya mau dapat sesuatu, maka harus ada yang dikorbankan. Ya, ngorbanin waktu-waktu kebersamaan dengan si kecil tentunya. Kami memang selalu bersama, tapi jika duduk bersebelahan dan saya sibuk di depan laptop sementara anak saya sibuk nonton film kartun, usai itu saya merasa amat menyesal mengapa saya tidak bisa mendampinginya dan mengajaknya mengobrol ketika ia sedang menonton film kartun. Padahal banyak pelajaran yang bisa saya sampaikan ke anak saya ketika menonton film kartun tersebut. Maafkan ya nak..

Oleh karena itu, balas dendam saya atas waktu yang berkurang dalam mendampingi anak saya adalah ketika weekend sabtu-minggu. Saya selalu mengusahakan untuk bisa kami berpergian bersama, dan mengajak anak saya bermain di arena bermain atau sekadar mengajaknya berlarian di lapangan. Bagi saya, semoga itu bisa menebus waktu kebersamaan efektif kami di rumah sekalipun kami selalu bersama.

Pada akhirnya, semoga ALLAH memudahkan saya menjadi editor yang baik dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas. Semoga Allah juga memberikan kekuatan fisik, pikiran serta ruhani untuk terus menjalani peran sebagi istri, ibu dan membantu suami dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga kami. Semoga (lagi) Allah jadikan saya IRT yang tangguh dengan tidak lupa juga dalam pemenuhan hak-hak tubuh diri sendiri. Bismillah.. semoga kerja keras saya semuanya berkah. Insya Allah :)

Ujungnya.. Jadi IRT Juga :)

Ceritanya habis ngobrol di WA dg teman kuliah dulu.. sedikit cerita nih, dia itu dulu "akademik" banget. dikit-dikit main ke perpus, nyari jawaban dari tugas yang dikasih dosen. pulang kuliah nongkrong di beranda kampus sambil nge-WIFI ngerjain makalah tugas dosen sampai pada weekendnya aja janjian sama temen-temen sealirannya tuk datangin pasar senen lantaran nyari buku salah satu matkul yang ditugasin sama dosen. pokoknya.. top markotop soal ke'rajin'an dia yang berkaitan dg nilai-nilai mata kuliah. sampai dia pernah bertekad untuk lulus kuliah tepat waktu.. gimana pun caranya. katanya dia ga pengen ngecewain orangtuanya yang udah biayain dia habis2an. salut! dan ternyata memang terwujud itu semua.

Lantas, ketika sempat ditanya setelah lulus kuliah mau ngapain, kata dia SD di menteng udah siap nerima dia sebagai pengajarnya. Wow.. SD menteng gitu loh bener2 menjanjikan. singkat cerita dia akhirnya ngajar di menteng dan saat itu kami putus komunikasi sampai akhirnya dapet kabar kalau dia udah nikah sama pacarnya dulu bahkan udah dibawa ikut suaminya ke luar kota daaaaaann.. udah punya baby perempuan juga. kaget dong.. alhasil saya cari tahu no WAnya dan akhirnya komunikasi lagi. dia cerita banyak tentang kesibukannya yang cuma bertiga tinggal di luar kota, jauh dari keluarga pula. tapi pasangan itu tetap bertahan dan teman saya ini tetiba berkata "deas, akhirnya ngerasain seperti kamu juga ya.. aku sekarang mandiri dan jadi ibu rumah tangga aja. jujur awalnya bete karena mau kerja apa di luar kota begini tapi ternyata Allah Maha Baik, aku ditakdirkan jadi IRT yang bisa ngurus anak dan suami. I'm a house wife and i'm happy".

Subhanallah.. klo diinget2 ternyata mati2an saat dia kuliah dulu, berbuah hanya menjadi IRT. waw... tapi subhanallahnya dia bener2 bangga jadi IRT dan melepaskan segala atribut ke-karier-an yang bisa dicapai olehnya setelah lulus kuliah tepat waktu dan memutuskan menikah lalu punya anak. jadi.. saya amat terharu.. menjadi IRT adalah sebuah pilihan, bukan paksaan. dan semua wanita yang kini masih menempuh bangku kuliah bukan tidak mungkin bernasib sama seperti kami. ya! saya dan teman saya membuktikan, menjadi IRT bukanlah aib atau sebuah kemunduran. gak perlu malu tuk mengatakan "i'm a house wife and i'm happy". Semoga Allah memampukan kita jadi IRT yang tangguh yah.

Muslimah Tampil di Depan Umum, Why Not?!


Ingatan saya kembali terulang kala menatap piagam-piagam yang pernah diberikan pada saya ketika diundang dalam sebuah acara/event. Sayangnya.. beberapa piagam itu sudah tak terbentuk, ada yang sudah keriting dan banyak juga yang sobek lantaran tak terselamatkan karena musibah banjir beberapa tahun yang lalu. Ada sedih di hati tatkala hanya bisa memandanginya sambil memungut lalu membuangnya ke tempat sampah. Sambil mencoba menghibur diri, saya berkata dalam hati “Tak mengapa, ini hanya lembaran kertas yang tak terlalu berarti, karena yang berarti adalah pengalaman itu sendiri”.

Ya. Saya mulai diundang untuk tampil di depan umum saat berakhir status sebagai pelajar SMA. Ketika itu musim libur sekolah dan pergantian semester. Sementara di tengah aktivitas saya yang masih ngambang saat itu karena menunggu pengumuman PTN, salah seorang teman pengajian menghubungi saya dan meminta saya untuk mengisi kajian di kampus STIE Nusantara yang kini sudah berganti nama menjadi IBN (Institut Bisnis Nusantara). Dalam pikiran saya kala itu, ini merupakan peluang untuk saya mengasah bakat dan potensi diri yang barangkali masih terpendam.

Alhasil tibalah waktu di mana saya mengisi kajian muslimah di kampus tersebut. Saya terkaget-kaget karena pesertanya kala itu hampir mencapai 50 orang dan ketika saya diminta KTP sebagai bukti identitas pengisi materi, salah seorang panitia mengernyitkan dahi dan mengatakan “Masya Allah ternyata mbak masih 17 tahun ya. Muda sekali”. Seketika saya menunduk, antara malu karena dibilang muda dengan perasaan tidak enak karena saat saya menyampaikan materi saya tidak bilang bahwa saya lebih muda dari peserta kajiannya yang rata-rata sudah menempuh bangku kuliah tingkat tiga.
Ilustrasi. (inet)
Dari pengalaman tersebut… Saya malu! Saya amat malu untuk jujur bahwa sebenarnya saya ini semestinya yang dibimbing oleh mereka untuk mempelajari Islam lebih dalam lagi. Namun karena gengsi saya saat itu, akhirnya saya sok bersikap dewasa dan memberi kesan bahwa saya lebih tua usianya dari mereka peserta kajian.
Sesampainya di rumah, saya mengadu pada ibu saya dan menceritakan kegelisahan saya di mana saya kapok menjadi pembicara dan tidak mau lagi kalau diundang mengisi kajian. Namun, ternyata Allah berkehendak lain, sampai di suatu hari saya sudah menjadi mahasiswi dan diminta memberi sambutan serta memimpin pembacaan doa ketika ada seminar pendidikan dari jurusan. Saya, yang ketika itu sebenarnya sudah kapok tampil di depan umum ternyata masih ditodong untuk tampil dan mau tidak mau karena perintah dosen, saya pun menurut.
Saya mulai maju ke mimbar sambil memegang microphone dengan tangan sedikit gemetar. Saya memberikan sambutan mewakili ketua pelaksana seminar tersebut. Saya mulai menata kembali bahasa saya, menyampaikan perlahan kalimat demi kalimat hingga akhirnya sambutan pun usai. Dan saya kembali berhasil tampil di depan umum.

Namun nyatanya, tepuk tangan dari peserta seminar tak membuat saya puas. Saya justru kapok, untuk tidak mau tampil lagi karena merasa saat itu saya masih junior di kampus, sementara peserta seminar ada yang sudah senior di tingkat akhir. Lagi-lagi saya tidak pede, bukan karena soal kemampuan saya tampil di depan umum melainkan soal usia. Ya! Saya selalu mempertimbangkan ketika mau isi acara, apakah peserta acara tersebut lebih muda dari saya atau tidak. Kalau lebih tua, saya memilih enggan untuk tampil di depan mereka.

Seiring berjalannya waktu, saya rajin mengikuti acara seminar atau kajian terutama yang berkaitan dengan kemuslimahan. Sampai suatu saat saya menyimak seorang pembicara wanita yang mengatakan “Tidak penting siapa dirimu, seperti apa dirimu. Yang terpenting adalah ilmu yang bisa kamu bagi”. Tiba-tiba pernyataan tersebut membuat saya begitu syok. Saya langsung memohon ampun pada Allah, bahwa selama ini saya salah. Saya selalu memikirkan penilaian peserta terhadap diri saya yang masih muda kala itu ketimbang memikirkan ilmu yang saya bagi itu sudah benar dan bisa diterima oleh peserta atau belum.

Maka, seiring berjalannya waktu.. Kemantapan itu senantiasa hadir dalam diri, ketika saya diminta menjadi pembicara Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa SMA, kemudian menjadi pembicara kajian muslimah di IPB, STT-PLN, KAMMI Uhamka dan undangan mengisi acara lain yang kesemua itu membuat saya harus tampil di depan umum, pada akhirnya membuat saya berpikir untuk bisa berbagi dan tak peduli apa tanggapan atau penilaian orang terhadap diri pribadi saya. Karena yang saya niatkan adalah dalam rangka berdakwah atau berbagi ilmu. Justru yang jadi persoalaan adalah ketika usai mengisi materi saya selalu bertanya pada panitia acara, apakah saya sudah berhasil menjadi pembicara seperti yang dikehendaki mereka?

Dan pada akhirnya, setiap kesempatan untuk berbagi ilmu dengan tampil di depan umum tak pernah saya lewatkan. Saya selalu mempelajari dan melihat langsung bagaimana sosok pembicara yang handal. Mulai dari gerak-geriknya, kata per kata, bahasa tubuhnya sampai kemampuan mengelola ice breaking demi tercapainya misi berbagi ilmu yang diharapkan. Dan hal itu masih saya lakukan ketika sudah berumah tangga saat ini, karena bagi saya… seorang muslimah, perannya tidak hanya sebagai anak, istri maupun ibu saja. Dia dapat sangat efektif menjadi contoh yang baik kepada orang lain dengan menjadi baik hati, ramah berbicara, bisa menawarkan bantuan, keprihatinan berbagi serta sukacita. Dan dia juga dapat menggunakan semua kesempatan yang tepat untuk mendidik, maupun membimbing orang lain salah satunya dengan berbagi ilmu di depan umum (dibaca: pembicara).

Bukan jamannya lagi, seorang muslimah tidak berani tampil di depan umum karena alasan tidak PD atau takut salah. Karena setiap sisi kehidupan banyak menuntut peran wanita untuk bisa tampil di depan umum; berbagi ilmu pengetahuan, menyuarakan ide pemikiran dan mengubah apa yang mesti diubah dari sekitarnya. So, kita pasti bisa!. Muslimah Tampil di Depan Umum, Why Not?