"Tidak ada yang sempurna di dunia.. Jika begitu adanya, mengapa masih mengharap berlebih dari apa yang sudah diberi oleh-Nya? Sekalipun masalah yang menyapa, ia bukan masalah yang tak ada jalan keluarnya. Karena pada-Nya saja, kita mengharap dan meminta.."

Postingan Populer

Label

Belum Waktunya



Setiap orang ada jalannya masing-masing. Jika kita bertanya mengapa dia begitu, mengapa dia bisa seperti itu atau mengapa ia memperoleh ini itu.. Maka carilah alasan sebanyak2nya. Bahwa mungkin kita belum waktunya, belum cukup usia tuk menjadi seperti mereka, belum waktu memperoleh seperti apa yang mereka miliki. Ini hanya masalah waktu.. Sekarang mungkin kita begini, ke depannya siapa yang bisa memprediksi? Oleh karenanya.. Kita masih diberi kesempatan mengejar ketertinggalan.. Untuk bisa menyusul mereka2 yang lebih 'maju'. Jangan berkecil hati.. Semangat untuk selalu mengupgrade diri, semangat lebih baik.

Yuk, Gabung HBC (Home Business Community)!!!

HBC (Home Business Community) merupakan konsep bisnis yang dibangun dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota. Sehingga sistem ini mengharapkan adanya kebersamaan dan rasa memiliki serta bekerja sama dalam membangun usaha bersama. Untuk permodalan saya menyebutnya dengan istilah saham. Dengan tujuan agar lebih dipahami dan dapat dimiliki oleh semua anggota. Memang suatu keniscayaan bahwa semua jenis dan bentuk usaha butuh modal dana yang mencukupi.

Dalam hal ini, HBC memulai dari nilai saham yang mungkin dianggap kecil. Akan tetapi, kita akan bersinergi dengan bisnis yang sudah memiliki omset sampai dengan ratusan juta rupiah. Saya mengajak siapa saja menanam modal hanya 50.000 untuk dapat berbisnis ratusan juta rupiah. Memang hal tersebut terdengar aneh bahkan nyeleneh. Semoga hal yang aneh dan nyeleneh ini akan kita buktikan menjadi hal yang positif dan mendatangkan banyak keuntungan bagi kita semua dan kemaslahatan umat.

Ada dua hal penting yang harus disiapkan dalam berbisnis, yaitu Modal dan Manajemen. Untuk permodalan kita coba memulai dengan jumlah 10.000.000,00 juta rupiah. Dana ini didapatkan dari anggota HBC, sebagai contoh simulasi :
1 anggota berinvestasi @ 50.000,00 x 200 = 10.000.000,00

Dengan adanya sistem patungan modal jumlah yang cukup besar terasa ringan. Dana tersebut kita namakan saham bersama. Yang kemudian saham tersebut akan kita pergunakan untuk program bisnis yang dikelola oleh pihak manajemen. Salah satunya industri rumahan FASTCLEAN yang berkembang di daerah Tasikmalaya sekitarnya.

Anda berminat? Silakan lebih lanjut hubungi Ayat 085780811339 atau Deasy 081283810066.











Maafkan Ummi, Nak!

Malam ini, saya menangis sejadi-jadinya. Saya sangat merasa bersalah terhadap anak sendiri, Rayyan. Saya baru menyadari kesalahan saya ketika rayyan menjelang mau tidurnya, ia tidak rewel dan tidak meminta saya tuk ngelonin dia. Ketika dia amat cuek, saya pun berkata "ehh, Rayyan kok mau bobok ga bilang sama ummi. Tapi jangan bobok dulu nak, sebentar lagi abi pulang bawa roti bakar lho. Katanya tadi Rayyan laper?" Namun sepertinya usahaku sia-sia. Rayyan mulai membalikkan badan dan memeluk guling lantas memejamkan mata. Sampailah pada akhirnya saya baru menyadari, apakah ini sebuah kebahagiaan karena Rayyan berhasil tidur tanpa melakukan ritual seperti biasanya ataukah ini sebuah kesalahan karena saya kurang mengajaknya bermain sehingga tau-tau ia sudah mau tidur saja? Entahlah...

Tapi yang pasti, setelah Rayyan tertidur.. Tetiba saja air mata mengalir begitu derasnya. Ya! Karena saya amat menyesal. Bayangan-bayangan aktivitas saya dan Rayyan sebelum tidur kembali muncul. Ya, Rayyan yang sedari tadi mengajak saya bermain kuda-kudaan, kemudian Rayyan mengajak saya untuk memangku dirinya kemudian berguling-guling di atas kasur dan mencium-cium saya sementara saya asik memegang HP, ya karena saya sedang ada diskusi di grup WA bersama para ibu rumah tangga sehingga beberapa kali saya mengabaikan Rayyan yang berusaha mengajak saya bermain dan bercanda tawa. Sungguh, saya baru menyadari bahwa quality time antara kami malam ini GAGAL. Saya yang bersalah, karena pendeknya malam ini dilalui begitu saja dengan Rayyan yang nonton video Thomas di laptop saya kemudian ia berguling-guling di kasur dan menidih tubuh saya namun semuanya itu tanpa saya dampingi. Memang saya saat itu berada di sebelahnya juga, namun keberadan saya nampaknya tak berarti apa-apa karena toh Rayyan tetap asyik main sendiri. Dari sini saya sangat paham, bahwa ini sebuah teguran... sepele tapi membuat saya sedih. Karena Allah gerakkan rayyan untuk tidak minta dikelonin saat mau tidur, ia pun tidak berusaha mengajak saya untuk tidur yaa mungkin itu, karena ia sudah mencoba mengajak bermain umminya dan tidak diperdulikan maka ia juga kapok untuk mengajak saya tidur bersamanya.


Wallahi, air mata saya masih saja mengalir sampai saat saya menuliskan ini semua. Sungguh saya sangat menyesal. Dan saya berusaha untuk mengiqob diri. Pasca Rayyan tertidur, saya tidak mau melanjutkan memegang HP. Saya letakkan HP dalam keadaan off di atas meja kemudian saya dekati Rayyan dan membaringkan tubuh di sebelahnya sambil memeluk tubuh mungilnya sambil berbisik di teliganya "Maafkan ummi, nak! Malam ini ummi kurang memperhatikanmu. Ummi janji esok dan seterusnya insya Allah akan lebih mementingkan kamu ketimbang yang lainnya." Maka, setelah saya menuliskan ini semua, saya ikut bersama Rayyan tertidur, berharap mendapat mimpi yang indah bersama Rayyan. Aamiin

Menjadi Editor dari Rumah

Malam ini sepertinya ingin sedikit mencurahkan isi hati serta pikiran yang membelenggu jiwa. Mumpung anak lanangku sudah tidur lelap, dan suami masih berkumpul dalam lingkaran pengajiannya. Saya, sudah gatel ingin menulis ini. Lebih tepatnya ingin berbagi suka duka yang saya rasakan selama ini. Heuheu :D

Bekerja jadi editor.. Saya mencoba menikmatinya. Qadarullahnya, passion saya memang berkecimpung di bidang kepenulisan. Jadi, udah gak aneh baca tulisan atau lihat artikel di laptop yang berhalaman-halaman. Saya menerima pekerjaan ini, karena memang saya menyukai latar belakangnya dan selain itu juga saya bisa bekerja namun tetap berada di rumah. Puji syukur alhamdulillah, saya mendapat kesempatan untuk terus mengasah bakat serta kemampuan menulis. Karena meski saya hanya bertugas mengedit, tapi saya harus banyak belajar untuk mengetahui dasar-dasar kebahasaan seperti EYD, penggunaan kata baku-tidak baku dan atau sesuai dengan KBBI atau tidak. Ya begitulah.. dengan memperoleh pekerjaan yang seperti ini, saya sangat syukuri tentunya terlebih karena saya masih tetap bisa mengurus anak serta suami di rumah :)

Namun, kegalauan itu muncul... Kalau saya lagi kurang enak badan atau anak sedang rewel-rewelnya. Sudah pasti kerjaan terbengkalai. Karena bekerja dari rumah sebagai IRT itu agak sulit mengatur waktunya dengan pekerjaan saya sebagai editor. Contohnya saja, jam kerja saya adalah dari pkl 8 pagi sampai pkl 4 sore. Dalam rentang waktu sekian itu, saya harus bisa menyelesaikan pengeditan naskah sebanyak 10 konten. Dan ternyata setiap kali saya sudah berada di depan laptop... anak saya, Rayyan tetiba minta disetelkan video Thomas and Friends, kontan saya tidak bisa menolak dan mengalah. Pun akhirnya urung mengedit satu naskah lantaran laptopnya dipakai anak menonton video.. Sedangkan jika menunggu Rayyan tidur siang, ehh saya pun sudah lelah karena selama Rayyan menonton video di laptop saya bisa menyelesaikan pekerjaan RT seperti nyuci piring, menyetrika baju, nyapu ngepel dan lain sebagainya jadi kalau sudah ngelonin Rayyan tidur siang, mau tidak mau saya ikut tidak sadarkan diri, Haha.

Nah, adakalanya saya pintar mencari waktu untuk bisa menyelesaikan editan naskah. Terkadang, ketika Rayyan sudah tidur siang, saya memaksakan diri untuk membuka mata lebar-lebar sambil dikasih candu minuman berkafein alias kopi. Alhasil beberapa kali terapi seperti ini dilakukan, saya langsung bisa mengedit naskah hingga 5 naskah sekali jadi. Ini tentu sebuah keberhasilan yang perlu diapresiasi. Lantas bagaimana mengapresiasinya? Biasanya setelah saya ngedit naskah sebanyak 5 konten itu dalam satu waktu, saya langsung merebahkan diri di kasur dan bablas tertidur hingga 3-4 jam. Tetiba bangun tidur sudah ada Rayyan yang sedang asyik main sendiri, haha.

Selama bekerja sebagai IRT, asli saya ga pernah dituntut apa-apa sama suami atau anak. Saya kerja semau saya sendiri. Kalau lagi semangat, seharian saya bisa mengerjakan 3-4 pekerjaan RT seperti pagi-pagi mencuci baju kemudian menjemurnya setelah itu mencuci piring kemudian menyapu dan mengepel lantai.. Semuanya bisa saya kerjakan dengan penuh semangat. Namun, kalau saya sedang lelah dan lagi moody, bisa-bisa semua pekerjaan RT menumpuk dan rumah rasanya kotor sekali. Ihikz.. Inilah seharusnya ada ART yang bisa membantu menangani hal macam gini namun sayang amat malang, nyari ART begitu sulit di jaman serba canggih seperti ini. Sekalinya dapet, udah paruh baya, kakinya sulit berjalan jauh karena ada reumatik. Jaman padahal udah canggih, tapi ART ini masih aja ngandelin kaki untuk kesana kemari #pilihan.

Nah balik lagi ke cerita saya sebagai editor. Jujur juga nih, adakalanya saya merasa kerepotan sekali ketika sudah lapang berada di depan laptop lantas ketika mau menyambungkan koneksi ke internet ternyata jaringannya error atau website sedang dalam perbaikan. Alamat gagal total lagi saya mengedit dan mengupload naskah padahal saat itu Rayyan sudah tidur lelap atau sedang asyik menonton film kartun. Nah, kalau sudah begitu... target yang semestinya tercapai sebanyak 10 naskah mau tidak mau hanya bisa terupload kurang lebih 5-7 naskah saja. Itu pun kadang saya mencari naskah yang isinya hanya 1-2 halaman saja dan atau saya utamakan yang mengirim naskah berupa syair atau puisi karena gampang diedit hehe.

Kalau soal sah atau tidak sahnya naskah yang saya upload sebenarnya sudah ada panduan dari redaktur, tapi mau bagaimana lagi. Saya curhat pun dan mengeluhkan kondisi saya, entah dimaklumi atau tidak. Mungkin maunya tahu beres saja. Makanya, beberapa kali saya melakukan aksi yang seperti itu, yang terpenting saya mengedit dan mengupload naskah sesuai target yang ditentukan.

Namanya jadi ibu rumah tangga. Saya gak bisa dikasih jam kerja. Karena saya bekerja sesuai kondisi dan situasi. Nah yang begini ini, ketika Rayyan lagi rewel sementara saya juga harus tetap menyelesaikan pekerjaan rumah tangga terus saya juga harus ngedit dan ngupload, rasanya saya seperti dikejar-kejar apalagi ketika lihat jam di dinding yang sudah menunjukkan batas akhir penguploadan yaitu pkl 4 sore. Alhasil saya bersegera membuka file naskah dan mulai mengedit, nah yang saya gak sangka-sangka ternyata naskah pertama yang saya edit itu berjumlah 6 halaman. Kemudian saya cek naskah kedua ternyata isinya cerpen dan lebih panjang lagi karena berjumlah 10 halaman WOW dan yang ketiga saya membuka naskah ternyata isinya hanya 4 halaman namun isinya berupa tafsir ayat suci Al-Quran. Asli kalau yang begini, saya udah pasti nyerah. Maksudnya nyerah untuk gak edit 3 naskah itu? Bukan... saya gak nyerah ngedit 3 naskah itu tapi saya nyerah ngedit naskah-naskah berikutnya. Makanya cuma bisa ngedit maksimal 5 naskah kalau mengalami hal semacam ini. Akhirnya gak sesuai target kan, dan cuma bisa bergumam dalam hati.. "pasrah deh mau digaji berapa nih akhir bulan?" Heuheu..

Udah gitu.. dukanya lagi jadi editor, asli ini mah saya jujur aja. Ada beberapa penulis yang tetiba mengajak saya berteman di dunia maya atau menghubungi saya via email, cuma gegara minta diedit kembali naskah yang sudah saya publish ke media lantaran ada yang perlu diperbaiki atau ada yang perlu ditambahkan. Nah.. ini yang membuat saya makin tambah stress. Karena ketika saya sudah tutup laptop dan mengakhiri jam kerja saya, lantas membaca email atau pesan FB di Hp minta diedit tulisan mereka yang telah dipublish, maka mohon maaf saya keluarkan kalimat "lain kali, tolong diperiksa dulu tulisannya sebelum dikirim ke email redaksi ya". Bukan apa-apa, gak mungkin saya buka laptop lagi, nunggu terkoneksi lagi dan belum lagi baru mau ngedit ehh anakku udah rewel minta ditemenin main kuda-kudaan. Alhasil permintaan mereka para penulis baru bisa saya kabulkan keesokan harinya. Maaf ya... Tolong ngertiin saya juga.

Ya begitulah... keluhan saya malam ini. Pada intinya sih, saya berharap untuk bisa bertahan dengan pekerjaan ini. Karena mendapat pekerjaan seperti ini gak mudah. Saya termasuk yang beruntung bisa bekerja hanya dari rumah. Tapi, namanya mau dapat sesuatu, maka harus ada yang dikorbankan. Ya, ngorbanin waktu-waktu kebersamaan dengan si kecil tentunya. Kami memang selalu bersama, tapi jika duduk bersebelahan dan saya sibuk di depan laptop sementara anak saya sibuk nonton film kartun, usai itu saya merasa amat menyesal mengapa saya tidak bisa mendampinginya dan mengajaknya mengobrol ketika ia sedang menonton film kartun. Padahal banyak pelajaran yang bisa saya sampaikan ke anak saya ketika menonton film kartun tersebut. Maafkan ya nak..

Oleh karena itu, balas dendam saya atas waktu yang berkurang dalam mendampingi anak saya adalah ketika weekend sabtu-minggu. Saya selalu mengusahakan untuk bisa kami berpergian bersama, dan mengajak anak saya bermain di arena bermain atau sekadar mengajaknya berlarian di lapangan. Bagi saya, semoga itu bisa menebus waktu kebersamaan efektif kami di rumah sekalipun kami selalu bersama.

Pada akhirnya, semoga ALLAH memudahkan saya menjadi editor yang baik dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugas. Semoga Allah juga memberikan kekuatan fisik, pikiran serta ruhani untuk terus menjalani peran sebagi istri, ibu dan membantu suami dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga kami. Semoga (lagi) Allah jadikan saya IRT yang tangguh dengan tidak lupa juga dalam pemenuhan hak-hak tubuh diri sendiri. Bismillah.. semoga kerja keras saya semuanya berkah. Insya Allah :)

Ujungnya.. Jadi IRT Juga :)

Ceritanya habis ngobrol di WA dg teman kuliah dulu.. sedikit cerita nih, dia itu dulu "akademik" banget. dikit-dikit main ke perpus, nyari jawaban dari tugas yang dikasih dosen. pulang kuliah nongkrong di beranda kampus sambil nge-WIFI ngerjain makalah tugas dosen sampai pada weekendnya aja janjian sama temen-temen sealirannya tuk datangin pasar senen lantaran nyari buku salah satu matkul yang ditugasin sama dosen. pokoknya.. top markotop soal ke'rajin'an dia yang berkaitan dg nilai-nilai mata kuliah. sampai dia pernah bertekad untuk lulus kuliah tepat waktu.. gimana pun caranya. katanya dia ga pengen ngecewain orangtuanya yang udah biayain dia habis2an. salut! dan ternyata memang terwujud itu semua.

Lantas, ketika sempat ditanya setelah lulus kuliah mau ngapain, kata dia SD di menteng udah siap nerima dia sebagai pengajarnya. Wow.. SD menteng gitu loh bener2 menjanjikan. singkat cerita dia akhirnya ngajar di menteng dan saat itu kami putus komunikasi sampai akhirnya dapet kabar kalau dia udah nikah sama pacarnya dulu bahkan udah dibawa ikut suaminya ke luar kota daaaaaann.. udah punya baby perempuan juga. kaget dong.. alhasil saya cari tahu no WAnya dan akhirnya komunikasi lagi. dia cerita banyak tentang kesibukannya yang cuma bertiga tinggal di luar kota, jauh dari keluarga pula. tapi pasangan itu tetap bertahan dan teman saya ini tetiba berkata "deas, akhirnya ngerasain seperti kamu juga ya.. aku sekarang mandiri dan jadi ibu rumah tangga aja. jujur awalnya bete karena mau kerja apa di luar kota begini tapi ternyata Allah Maha Baik, aku ditakdirkan jadi IRT yang bisa ngurus anak dan suami. I'm a house wife and i'm happy".

Subhanallah.. klo diinget2 ternyata mati2an saat dia kuliah dulu, berbuah hanya menjadi IRT. waw... tapi subhanallahnya dia bener2 bangga jadi IRT dan melepaskan segala atribut ke-karier-an yang bisa dicapai olehnya setelah lulus kuliah tepat waktu dan memutuskan menikah lalu punya anak. jadi.. saya amat terharu.. menjadi IRT adalah sebuah pilihan, bukan paksaan. dan semua wanita yang kini masih menempuh bangku kuliah bukan tidak mungkin bernasib sama seperti kami. ya! saya dan teman saya membuktikan, menjadi IRT bukanlah aib atau sebuah kemunduran. gak perlu malu tuk mengatakan "i'm a house wife and i'm happy". Semoga Allah memampukan kita jadi IRT yang tangguh yah.

Muslimah Tampil di Depan Umum, Why Not?!


Ingatan saya kembali terulang kala menatap piagam-piagam yang pernah diberikan pada saya ketika diundang dalam sebuah acara/event. Sayangnya.. beberapa piagam itu sudah tak terbentuk, ada yang sudah keriting dan banyak juga yang sobek lantaran tak terselamatkan karena musibah banjir beberapa tahun yang lalu. Ada sedih di hati tatkala hanya bisa memandanginya sambil memungut lalu membuangnya ke tempat sampah. Sambil mencoba menghibur diri, saya berkata dalam hati “Tak mengapa, ini hanya lembaran kertas yang tak terlalu berarti, karena yang berarti adalah pengalaman itu sendiri”.

Ya. Saya mulai diundang untuk tampil di depan umum saat berakhir status sebagai pelajar SMA. Ketika itu musim libur sekolah dan pergantian semester. Sementara di tengah aktivitas saya yang masih ngambang saat itu karena menunggu pengumuman PTN, salah seorang teman pengajian menghubungi saya dan meminta saya untuk mengisi kajian di kampus STIE Nusantara yang kini sudah berganti nama menjadi IBN (Institut Bisnis Nusantara). Dalam pikiran saya kala itu, ini merupakan peluang untuk saya mengasah bakat dan potensi diri yang barangkali masih terpendam.

Alhasil tibalah waktu di mana saya mengisi kajian muslimah di kampus tersebut. Saya terkaget-kaget karena pesertanya kala itu hampir mencapai 50 orang dan ketika saya diminta KTP sebagai bukti identitas pengisi materi, salah seorang panitia mengernyitkan dahi dan mengatakan “Masya Allah ternyata mbak masih 17 tahun ya. Muda sekali”. Seketika saya menunduk, antara malu karena dibilang muda dengan perasaan tidak enak karena saat saya menyampaikan materi saya tidak bilang bahwa saya lebih muda dari peserta kajiannya yang rata-rata sudah menempuh bangku kuliah tingkat tiga.
Ilustrasi. (inet)
Dari pengalaman tersebut… Saya malu! Saya amat malu untuk jujur bahwa sebenarnya saya ini semestinya yang dibimbing oleh mereka untuk mempelajari Islam lebih dalam lagi. Namun karena gengsi saya saat itu, akhirnya saya sok bersikap dewasa dan memberi kesan bahwa saya lebih tua usianya dari mereka peserta kajian.
Sesampainya di rumah, saya mengadu pada ibu saya dan menceritakan kegelisahan saya di mana saya kapok menjadi pembicara dan tidak mau lagi kalau diundang mengisi kajian. Namun, ternyata Allah berkehendak lain, sampai di suatu hari saya sudah menjadi mahasiswi dan diminta memberi sambutan serta memimpin pembacaan doa ketika ada seminar pendidikan dari jurusan. Saya, yang ketika itu sebenarnya sudah kapok tampil di depan umum ternyata masih ditodong untuk tampil dan mau tidak mau karena perintah dosen, saya pun menurut.
Saya mulai maju ke mimbar sambil memegang microphone dengan tangan sedikit gemetar. Saya memberikan sambutan mewakili ketua pelaksana seminar tersebut. Saya mulai menata kembali bahasa saya, menyampaikan perlahan kalimat demi kalimat hingga akhirnya sambutan pun usai. Dan saya kembali berhasil tampil di depan umum.

Namun nyatanya, tepuk tangan dari peserta seminar tak membuat saya puas. Saya justru kapok, untuk tidak mau tampil lagi karena merasa saat itu saya masih junior di kampus, sementara peserta seminar ada yang sudah senior di tingkat akhir. Lagi-lagi saya tidak pede, bukan karena soal kemampuan saya tampil di depan umum melainkan soal usia. Ya! Saya selalu mempertimbangkan ketika mau isi acara, apakah peserta acara tersebut lebih muda dari saya atau tidak. Kalau lebih tua, saya memilih enggan untuk tampil di depan mereka.

Seiring berjalannya waktu, saya rajin mengikuti acara seminar atau kajian terutama yang berkaitan dengan kemuslimahan. Sampai suatu saat saya menyimak seorang pembicara wanita yang mengatakan “Tidak penting siapa dirimu, seperti apa dirimu. Yang terpenting adalah ilmu yang bisa kamu bagi”. Tiba-tiba pernyataan tersebut membuat saya begitu syok. Saya langsung memohon ampun pada Allah, bahwa selama ini saya salah. Saya selalu memikirkan penilaian peserta terhadap diri saya yang masih muda kala itu ketimbang memikirkan ilmu yang saya bagi itu sudah benar dan bisa diterima oleh peserta atau belum.

Maka, seiring berjalannya waktu.. Kemantapan itu senantiasa hadir dalam diri, ketika saya diminta menjadi pembicara Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa SMA, kemudian menjadi pembicara kajian muslimah di IPB, STT-PLN, KAMMI Uhamka dan undangan mengisi acara lain yang kesemua itu membuat saya harus tampil di depan umum, pada akhirnya membuat saya berpikir untuk bisa berbagi dan tak peduli apa tanggapan atau penilaian orang terhadap diri pribadi saya. Karena yang saya niatkan adalah dalam rangka berdakwah atau berbagi ilmu. Justru yang jadi persoalaan adalah ketika usai mengisi materi saya selalu bertanya pada panitia acara, apakah saya sudah berhasil menjadi pembicara seperti yang dikehendaki mereka?

Dan pada akhirnya, setiap kesempatan untuk berbagi ilmu dengan tampil di depan umum tak pernah saya lewatkan. Saya selalu mempelajari dan melihat langsung bagaimana sosok pembicara yang handal. Mulai dari gerak-geriknya, kata per kata, bahasa tubuhnya sampai kemampuan mengelola ice breaking demi tercapainya misi berbagi ilmu yang diharapkan. Dan hal itu masih saya lakukan ketika sudah berumah tangga saat ini, karena bagi saya… seorang muslimah, perannya tidak hanya sebagai anak, istri maupun ibu saja. Dia dapat sangat efektif menjadi contoh yang baik kepada orang lain dengan menjadi baik hati, ramah berbicara, bisa menawarkan bantuan, keprihatinan berbagi serta sukacita. Dan dia juga dapat menggunakan semua kesempatan yang tepat untuk mendidik, maupun membimbing orang lain salah satunya dengan berbagi ilmu di depan umum (dibaca: pembicara).

Bukan jamannya lagi, seorang muslimah tidak berani tampil di depan umum karena alasan tidak PD atau takut salah. Karena setiap sisi kehidupan banyak menuntut peran wanita untuk bisa tampil di depan umum; berbagi ilmu pengetahuan, menyuarakan ide pemikiran dan mengubah apa yang mesti diubah dari sekitarnya. So, kita pasti bisa!. Muslimah Tampil di Depan Umum, Why Not?

Teh Yani, IRT dengan Dua Orang Balita

Alhamdulillah... Saya telah membentuk sebuah grup yang penghuninya merupakan IRT hebat. Di grup ini.. Kami belum saling kenal. Tapi kami mencoba untuk mengenal. Dan ternyata.. Banyak ibu rumah tangga yang luar biasa hebatnya dan saya patut berkaca dari kehidupannya.
Misalnya saja, ada teh Yani asal Garut. Yang daftarin teh Yani ke grup saya adalah mbak Nana, teman saya. Jadi, kami belum saling kenal namun teh Yani mengisahkan bahwa ia memiliki dua orang anak dengan jarak usia kurleb satu tahun. Teh yani ini memiliki ART yang hanya bantuin nyuci & nyetrika dua hari sekali. Ia bercerita bahwa si sulung yang usianya 18 bulan lagi mengalami fase oral. Ia senang memasukkan apa saja ke dalam mulutnya. Sementara adiknya yang usia 5 bulan pun begitu. Si sulung yang masih bayi juga, kalau melihat adiknya lagi tengkurep suka nindihin untuk main kuda-kudaan, dipukul & dicolok mukanya, serta disuapin jari & dot ke mulutnya. Masya Allah ya, lantas mudah kah menangani hal semacam ini? Tentu tidak.
Mungkin di luar sana banyak IRT yang mengalami hal serupa. Dan teh Yani sosok yang mewakilinya, ia baru memiliki dua anak saja sudah menyita pikiran dan tenaga, bagaimana yang anaknya lebih dari dua ya..??? Inilah hebatnya ibu rumah tangga. Ia berusaha tabah dan ikhlas menjalani semuanya.. Menikmati perannya sebagai seorang ibu meski tak jarang juga ia mengeluh dan merasa letih, tapi ini sebuah kewajaran dan lumrah. Tak banyak yang bisa diperbuat untuknya, hanya turut mendoakan.. Semoga Allah memberikan kekuatanmu, teh Yani.. Dan para IRT di luar sana. Semoga aktivitas demi keluarga peroleh berkah, Insya Allah.

Fiqih Sunah Untuk Wanita

Judul Buku : Fiqih Sunah untuk Wanita
Penulis : Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim
Penerjemah: Asep Sobari, Lc
Penerbit : Al-I’tishom
Tahun Terbit : Maret 2007
Tebal : 866 hlm
Beberapa orang mengatakan bahwa wanita adalah setengah dari masyarakat, sehingga masyarakat tidak boleh memandang sebelah mata atau mengabaikan setengah dari tubuhnya itu. Memang jumlah wanita bisa dikatakan mencapai setengah dari masyarakat, tapi pengaruh wanita jauh lebih besar terhadap masyarakat. Pengaruh tersebut bisa secara positif maupun negatif, terhadap suami maupun anak-anaknya. Maka, wajar jika seorang penyair besar mengatakan:
Wanita adalah sebuah madrasah
Apabila engkau persiapkan dengan baik
Maka sebenarnya engkau sedang mempersiapkan
Sebuah bangsa (generasi) yang mulia
Namun sayangnya, permasalahan seputar wanita  kian menjadi semakin kompleks dan krusial seiring dengan perkembangan zaman. Dibutuhkan suatu solusi/pemecahan karena para wanita masih terjebak oleh isu gender dan feminisme dalam sebuah iklan hegemoni Barat. Sehingga membuat perilaku dan budaya mereka yang jauh dari nilai-nilai Islam, sekadar untuk mencari tren.

Ibarat tulang rusuk yang bengkok, maka wanita – jika tidak diluruskan – akan semakin bengkok, namun jika dipaksakan maka akan patah. Oleh karena itu, butuh metode dakwah yang lembut dengan tetap di atas manhaj dan fiqih dakwah yang benar dan shahih.

Oleh karena itu, wanita seperti yang dikatakan oleh Imam Ibnul Jauzi adalah seorang mukallaf sehingga ia wajib mencari ilmu tentang berbagai kewajiban yang harus dijalankan agar dapat mengerjakannya dengan penuh keyakinan (baik dan benar, penj.). Puncak dan buah yang dipetik dari ilmu adalah fiqih (pemahaman agama). Fiqih merupakan pemahaman serta upaya mengambil kesimpulan dari dalil-dalil Al-Quran dan hadits Nabi disertai dengan pemahaman generasi salafush-shalih terhadap dalil-dalil tersebut.

Buku Fiqih Sunah Untuk Wanita ini merupakan upaya mengikuti jejak langkah para ulama terdahulu. Penulisnya, Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim menggunakan metode kajian yang sangat menarik karena berhasil menggabungkan gaya penuturan yang ringan, penyusunan masalah yang baik serta menggunakan dalil yang shahih. Buku ini berisikan dua belas bab meliputi; Thaharah, Shalat, Jenazah, Zakat dan Shadaqah, Puasa, Haji dan Umrah, Sumpah dan Nadzar, Makanan, Minuman dan Perabotan, Pakaian, Perhiasan dan Hukum Nazhar, Pernikahan, Perceraian, dan Warisan.

Dalam bab pertama, diulas mengenai thaharah (bersuci). Diawali dengan definisi atau penjelasan mengenai thaharah kemudian hukum air dan sarana bersuci apa saja. Setelah itu dikupas mengenai macam-macam najis dan cara membersihkannya serta sunnah-sunnah fitrah dan etika buang air besar. Selain itu, masih di bab pertama dikupas mengenai wudhu berupa rukun serta sunnah wudhu dan perkara-perkara apa saja yang bisa membatalkan atau tidak membatalkan wudhu. Kemudian masalah sehari-hari seperti apakah boleh ketika berwudhu mengusap kasut serta pembahasan terkait mandi besar seorang wanita ketika ia haid dan nifas serta cara bertayammum sebagai pengganti air bila tidak ada.

Sedangkan bab dua berisi mengenai shalat. Apa itu definisinya, waktu-waktu shalat kapan saja, syarat sah shalat seperti apa dan bagaimana agar shalat kita bisa seperti shalatnya Rasulullah Saw. Semua diulas di sini. Berikutnya di bab dua ini juga dijelaskan mengenai shalat sunnah dan macam-macamnya, shalat Jum’at bagi wanita dan mengenai ketentuan shalat berjamaah bagi wanita.

Untuk bab tiga, penulis mengulas mengenai jenazah. Yakni apa yang harus dilakukan wanita ketika anggota keluarganya ada yang meninggal, kemudian bagaimana cara mengkafani mayat, melakukan shalat jenazah, cara menguburkan mayat dan seputar hukum ziarah kubur bagi wanita. Selain itu bagaimana perkara-perkara yang dilarang atau diperbolehkan saat berkabung serta seputar masalah iddah, semuanya diulas di bab tiga ini.

Sedangkan bab empat, penulis membahas mengenai definisi zakat dan macam-macam jenisnya kemudian mengenai sedekah sunnah dan masalah seputar jual beli bagi wanita.

Selanjutnya dalam bab lima, penulis mengulas bahasan mengenai puasa secara definisi dan kedudukannya kemudian macam-macam puasa, rukun dan adab puasa serta perkara-perkara yang membatalkan puasa, dan penjelasan mengenai I’tikaf bagi wanita.

Dalam bab enam, dibahas mengenai definisi haji dan umrah, kemudian keutamaannya, syarat dan rukuk haji, syarat dan sunnah thawaf serta penjelasan mengenai etika ziarah ke Masjid Nabawi dan Makam Rasulullah SAW.

Bab selanjutnya, yakni bab tujuh diulas mengenai definisi sumpah dan nadzar. Kemudian macam-macam sumpah dan nadzar serta hukum-hukum seputar  nadzar.

Sedangkan bab delapan, penulis membahas mengenai makanan, minuman dan perabotan. Diawali dari jenis-jenis makanan yang haram, kemudian etika makan dan minum serta hukum berkurban, waktu penyembelihan dan perkara yang makruh dilakukan oleh orang yang hendak berkurban.

Berikutnya dalam bab sembilan; pakaian, perhiasan dan hukum nazhar diulas di sini. Kewajiban wanita menutup aurat, syarat pakaian wanita muslimah dan cara berpakaian di hadapan muhrim serta sesama wanita. Masalah seputar  hukum nazhar pun dibahas, terkait hukum lelaki memandang wanita yang bukan muhrim dan masalah lain seputar perhiasan wanita seperti perhiasan rambut, perhiasan gigi, parfum wanita, pewarna kuku dan semir rambut serta hukum memakai tato, operasi kecantikan pun semua diulas secara jelas di bab ini.

Selanjutnya dalam bab sepuluh dibahas mengenai pernikahan; seperti anjuran dan perintah untuk menikah, wanita-wanita yang haram dinikahi, nikah yang tidak sah menurut syariat, karakteristik pasangan suami istri, perkara mengenai mengkhitbah wanita, akad nikah, mahar, hak-hak sebagai suami istri, hukum poligami dan hukum seputar kelahiran bayi.

Bab berikutnya, yaitu bab sebelas. Penulis membahas mengenai perceraian antara suami dan istri. Bab ini mengulas mengenai definisi talak, hukum dan syarat talak kemudian macam-macam talak. Selain itu diulas juga mengenai khulu’ secara definisi, li’an, ila’, zhihar dan mengenai perceraian antara suami istri karena masuk Islam.

Bab terakhir yakni bab dua belas, penulis membahas mengenai warisan secara definisi, sebab-sebab pewarisan, faktor yang menghalangi pewarisan dan warisan yang berkaitan dengan wanita.

Pada akhirnya, penulis tidak berpanjang lebar dalam pembahasan untuk menghindari kebosanan. Tidak juga terlalu ringkas sehingga melewatkan poin-poin penting. Alhasil, buku ini perlu untuk dijadikan pegangan wanita Muslimah dalam menjalankan segenap ibadah kepada Allah Ta’ala. Selamat membaca.